Opini  

Tangis Arafah dan Luka Umat

Ummu Fahhala, S.Pd. (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

LingkarJabar – Hari itu, langit Arafah biru tanpa cela. Angin bertiup pelan, seolah ingin ikut menyeka air mata para tamu Allah. Jutaan umat Islam berkumpul di hamparan padang yang suci. Dari barat hingga timur, dari kulit hitam hingga putih, semua berdiri dalam satu barisan. Tak ada gelar. Tak ada pangkat. Tak ada yang lebih tinggi. Semua mengenakan kain ihram yang sama—putih, sederhana, merendahkan hati.

Seorang laki-laki dari Indonesia berdiri di samping pria Sudan yang tak ia kenal. Di belakangnya, seorang perempuan Turki menangis dalam sujud panjang. Di kejauhan, jamaah Palestina memanjatkan doa dalam bahasa Arab yang nyaris patah oleh isak. Di hari itu, tak ada yang asing. Semua bersaudara. Semua bersatu di hadapan Tuhan yang satu: Allah.

Suara takbir menggema dari segala arah. Tangis pecah. Tangan-tangan terangkat. Hati-hati remuk karena rindu. Inilah wajah umat Islam saat kembali pada fitrahnya. Inilah persatuan yang indah dan tak bisa dibeli dengan apapun. Sebuah momen langka yang menggetarkan jagat raya.

Namun Iduladha Masih Terpecah

Sayangnya, kebersamaan itu hanya singgah sebentar. Ketika para jamaah kembali ke tanah air masing-masing, kabar pilu segera menyusul. Hari raya yang seharusnya menyatukan, justru kembali memperlihatkan retakan. Umat Islam kadang berbeda dalam penentuan Iduladha.

Paradoks yang Menyayat Hati

Lebih jauh dari sekadar tanggal, luka itu menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Umat ini pecah. Perbedaan mazhab, organisasi, dan kepentingan politik terus mencabik tubuh yang semestinya satu. Mereka yang bersujud berdampingan di Mekkah, kini saling menyalahkan di media sosial.

Yang lebih memilukan, umat tak kunjung bersatu membela saudaranya yang tertindas. Di Gaza, anak-anak terbunuh setiap hari. Di Uighur dan Rohingya, saudara kita dibungkam. Tapi umat Islam masih sibuk memperdebatkan hal-hal kecil, lupa bahwa darah muslim lain adalah bagian dari tubuhnya sendiri.

Persatuan saat haji seolah hanya ilusi yang indah. Setelahnya, umat kembali pada kebiasaan lama: saling menjauh, saling curiga, saling menuding.

Iduladha: Seruan Taat yang Terlupakan

Iduladha bukan hanya pesta daging dan baju baru. Ia adalah panggilan untuk tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah Swt. Lihatlah Nabi Ibrahim, yang rela menyembelih anaknya sendiri demi ketaatan. Lihatlah Ismail, yang bersedia dikorbankan karena yakin pada takdir Ilahi.

Namun kini, umat hanya taat dalam ibadah pribadi. Mereka shalat dan berdoa, tetapi enggan menerapkan syariat dalam kehidupan sosial, ekonomi, atau politik. Syariat Allah hanya dijadikan simbol, bukan sistem hidup. Padahal, Islam adalah petunjuk yang sempurna untuk seluruh aspek kehidupan.

Allah telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Solusi Islam

Islam membawa solusi nyata bagi luka ini, yakni satu kepemimpinan global untuk seluruh kaum muslimin. Bukan utopia. Bukan mimpi kosong. Tapi ajaran Rasulullah Saw. yang nyata. Ia adalah perisai, pelindung, dan pemersatu. Umat Islam akan berhaji bersama, bertakbir bersama, dan berjuang bersama.

Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya Imam adalah perisai. Umat berperang di belakangnya dan berlindung padanya.” (HR. Muslim)

Umat ini pernah bersatu. Rasulullah Saw. memimpin umat dalam satu komando. Ketika beliau wafat, para sahabat meneruskan tongkat estafet itu. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali. Mereka memimpin satu umat dalam satu tubuh.

Penulis  : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)