LingkarJabar – Langit pagi di Desa Cibiru Wetan cerah. Tapi tidak bagi Pak Ridwan. Ia berdiri mematung di tepi bukit, menatap bekas galian tambang yang kini menganga seperti luka. Pohon-pohon tumbang. Tanah mengelupas. Air sungai di bawah bukit mengalir keruh, membawa cerita duka yang tak selesai.
“Dulu tempat ini penuh tanaman. Ada suara burung, ada suara air. Sekarang… hanya sunyi dan debu,” gumamnya lirih.
Anaknya, Nabila, menggamit lengan ayahnya. “Ayah, kenapa tambang itu nggak ditutup dari dulu?”
Pak Ridwan menarik napas panjang. “Karena yang punya tambang punya kuasa. Sementara kami… hanya punya tanah dan doa.”
Beberapa bulan terakhir, suasana mulai berubah. Truk-truk tambang tidak lagi lalu-lalang. Alat berat mulai digudangkan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup 118 tambang ilegal selama semester pertama 2025. Langkah ini mengejutkan sekaligus melegakan.
Berita ini disampaikan Dinas ESDM Jabar dan dilansir oleh salah satu media mainstream pada 8 Juli 2025. Penutupan ini dilakukan karena tambang-tambang itu melanggar aturan, merusak lingkungan, dan merugikan warga.
Pak Ridwan menatap layar ponsel tuanya. “Akhirnya mereka dengar juga, Nak. Mungkin doa kita benar-benar sampai ke langit.”
Tapi, Apa Hanya Ditutup Saja Sudah Cukup?
Penutupan tambang tentu langkah baik. Tapi masalah belum selesai. Banyak tambang baru muncul, lalu hilang, lalu muncul lagi seperti hantu. Warga merasa senang sesaat, lalu cemas kembali. Kenapa bisa begitu?
Karena tambang dikelola seperti bisnis semata, bukan amanah rakyat. Siapa yang punya uang, bisa beli alat berat, bisa gali gunung sesukanya. Tak peduli tanah longsor. Tak peduli sumber air hilang. Asal cuan mengalir, semuanya jalan.
Seorang pakar dari ITB, Prof. Irwandy Arif, menyebutkan bahwa lemahnya pengawasan tambang dan fokus pada investasi adalah sumber masalah. Ia menyampaikan ini dalam seminar nasional tambang, Januari 2024. “Tanpa pengawasan ketat dan arah kebijakan yang berpihak pada lingkungan, kita hanya akan mengulang kehancuran yang sama,” ujarnya.
Ketika Tambang Dikuasai Kapital, Rakyat Jadi Korban
Sistem kapitalisme menjadikan tambang sebagai alat meraup untung, bukan alat menyejahterakan rakyat. Hasilnya? Kerusakan, kemiskinan, dan konflik. Masyarakat adat terusir. Hutan habis. Sungai mengering.
Pak Ridwan tahu betul rasanya. Ia kehilangan ladang. Sungai tempat anak-anaknya mandi kini keruh dan berbau. “Kita seperti dijajah di tanah sendiri,” katanya pada tokoh desa, Pak Badrun, suatu malam.
Pak Badrun hanya menunduk. “Kalau sistemnya masih sama, Ridwan… yang kuat tetap menang. Kita hanya penonton.”
Islam Punya Cara yang Berbeda
Islam memandang tambang sebagai milik umum. Negara tidak boleh menyerahkan pengelolaannya kepada pihak swasta. Rasulullah Saw. bersabda: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)
Tambang termasuk dalam “api”. Maka, hasilnya harus kembali ke rakyat. Bukan dikuasai investor, bukan pula dimonopoli elit.
Umar bin Khattab ketika menjadi pemimpin menarik tambang dari tangan pribadi dan mengelolanya melalui baitulmal (perbendaharaan negara). Hasilnya digunakan untuk membangun jalan, pendidikan, dan kesehatan bagi seluruh warga.
Pengelolaan Ala Islam: Adil, Bersih, dan Menjaga Alam
Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab langsung terhadap tambang. Negara mengawasi, mengelola, dan mendistribusikan hasil tambang secara adil. Tidak ada celah untuk tambang ilegal karena tidak ada celah untuk swasta menguasai milik umum.
Islam juga melarang kerusakan. Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Islam tidak hanya melindungi alam, tetapi juga menjaga martabat rakyat. Inilah yang tidak dimiliki oleh sistem kapitalisme hari ini.
Penutup
Malam itu, Pak Ridwan menatap bintang. Ia tersenyum. Di kejauhan, bekas tambang mulai ditanami kembali oleh warga. Beberapa bibit pohon sudah tumbuh.
“Ayah, kalau nanti aku besar, boleh nggak kita bangun hutan lagi?” tanya Nabila.
Pak Ridwan mengangguk. “Boleh, Nak. Tapi nanti kamu juga harus bantu jaga… jangan sampai ada yang gali lagi.”
Langit malam menyelimuti mereka. Tapi di hati mereka, pagi sudah mulai terbit.
Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)






