Berita  

Menyambut Ramadan di Pantai Keusikluhur Pangandaran, Warga Antusiasme Pantau Hilal

Persiapan Pemantauan Hilal Awal Ramadan 1446 H di Pantai Keusikluhur Pangandaran. Foto:KM/LJ

PANGANDARAN, LingkarJabar –  Langit senja di Pantai Keusikluhur, Kabupaten Pangandaran, menjadi saksi persiapan pemantauan hilal awal Ramadan 1446 Hijriah. Di tengah deburan ombak yang tak henti menyapu pantai, tim ahli dari Kementerian Agama, Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Kabupaten Pangandaran, serta tokoh agama setempat mulai bersiap dengan peralatan canggih untuk mengamati bulan sabit pertama—penanda dimulainya bulan suci Ramadan.

Pantai Keusikluhur di Desa Kertamukti, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, dipilih sebagai salah satu dari 125 lokasi pemantauan hilal di Indonesia. Lokasi ini dianggap strategis dengan kondisi minim polusi cahaya, sehingga memudahkan pengamatan. Sejak sore, para pengamat hilal telah menyiapkan peralatan, memastikan semuanya berfungsi optimal sebelum matahari terbenam.

Tak hanya tim pemantau, masyarakat sekitar juga turut hadir menyaksikan proses ini. Beberapa duduk di atas batu karang, menikmati suasana pantai yang tenang sambil menunggu kabar resmi dari pemerintah. Pemantauan hilal ini akan menjadi bagian dari sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama di Jakarta. Hasil pengamatan dari Pantai Keusikluhur, bersama laporan dari lokasi lain di seluruh Indonesia, akan menjadi dasar penentuan awal Ramadan 1446 H.

Seiring langit yang semakin gelap, suara takbir mulai terdengar dari masjid-masjid sekitar. Ombak yang terus bergulung seolah ikut menyambut datangnya bulan penuh berkah yang dinanti umat Islam di seluruh dunia.

Salah satu warga Pangandaran, Amin, mengaku datang ke Pantai Keusikluhur untuk menyaksikan langsung proses penentuan awal Ramadan. Baginya, momen ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi tradisi penuh makna yang selalu ia ikuti setiap tahun.

“Saya merasa bahagia bisa hadir di sini, menyaksikan langsung proses pemantauan hilal. Ini bukan hanya soal melihat bulan, tapi juga merasakan kebersamaan dalam menyambut bulan suci Ramadan,” ujar Amin sambil menatap deburan ombak di pantai pada Jumat, 28 Februari 2025.

Warga yang hadir, termasuk Amin, tampak khidmat mengikuti jalannya proses, sesekali berbincang tentang tradisi Ramadan di kampung mereka. Momen ini menghadirkan rasa haru dan kebersamaan.

“Nanti, kalau hilal sudah terlihat, hati ini rasanya lega dan bahagia. Artinya, Ramadan benar-benar sudah di depan mata,” tutur Amin dengan senyum penuh syukur. (KM)