BANJAR, LingkarJabar – Festival Kirab Janur merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak lama di Kota Banjar. Kegiatan ini digelar setiap hari besar, termasuk perayaan Hari Jadi Kota Banjar yang ke-22. Festival ini menampilkan berbagai atraksi tari daerah serta makanan dan buah-buahan khas dari masing-masing daerah peserta.
Festival ini menjadi ajang bagi 25 desa/kelurahan di Kota Banjar untuk unjuk kreativitas, ditambah lima tamu undangan dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Setiap peserta menampilkan kekompakan dan identitas budaya mereka dalam kirab yang meriah dan penuh warna.
Salah satu daya tarik utama dalam Festival Kirab Janur kali ini adalah penampilan Leong Saba Purba Peti, sebuah representasi ular raksasa yang berasal dari Desa Sukamukti. Masyarakat setempat percaya bahwa Leong Saba Purba Peti merupakan penjaga Batu Peti, sebuah batu keramat yang diyakini menyimpan benda pusaka berupa golok.
Menurut salah seorang perangkat desa yang enggan disebut namanya, legenda ini telah hidup di tengah masyarakat Dusun Muktiasih, Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman. Nama Leong Saba Purba Peti sendiri memiliki makna mendalam, Leong berarti ular berukuran besar, Saba berarti tidak menetap di satu tempat,dan Purba Peti merujuk pada batu yang menyerupai peti.
Dikisahkan bahwa Leong Saba Purba Peti terus berpindah-pindah untuk mengawasi batu tersebut. Kemunculannya diyakini terjadi jika ada orang dengan niat jahat atau jika bencana akan melanda dusun. Hingga kini, Batu Peti masih dijaga dan dirawat oleh masyarakat sekitar.
Selain terkenal dengan kisah mistisnya, Dusun Muktiasih juga menjadi destinasi wisata religi dan hiburan, terutama dengan keberadaan Danau Baru Peti yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Dalam kompetisi Festival Kirab Janur tahun ini, Leong Saba Purba Peti dari Desa Sukamukti berhasil meraih posisi kedua. Juara pertama diraih oleh Jurig Sarengseng dari Desa Binangun, sementara posisi ketiga ditempati oleh Desa Cibeureum dengan Manuk Janur.
Festival Kirab Janur tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga simbol kekayaan tradisi dan kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Kota Banjar. (Joe)






