Opini  

Bunda, Ayah Pulang untuk Cerai?

Ummu Fahhala, S.Pd. (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

LingkarJabar – “Sebuah Kisah Tentang Rumah yang Runtuh, dan Harapan yang Terlambat Datang”

Angin sore itu tak seperti biasanya. Dingin. Diam. Dan membawa kabar buruk. Di ruang tamu kecil, Tia duduk memeluk boneka beruang yang sudah kusam. Di sampingnya, sang ibu memandangi pintu dengan tatapan kosong.

“Bunda… Ayah pulang, kan?” suara kecil Tia memecah hening.

Sang ibu tak menjawab. Ia hanya berusaha tetap tenang dengan mengangguk pelan. Tapi tangannya gemetar, menggenggam surat dari Pengadilan Agama yang baru saja datang.

Ayah memang pulang hari itu. Tapi bukan untuk memeluk mereka. Ia datang untuk menyudahi.

Namanya Rini, 33 tahun, ibu dari dua anak. Ia menikah saat usia 22. Awalnya semuanya indah. Tapi sejak pandemi, semua berubah. Usaha suaminya gulung tikar. Pinjol menjadi jalan pintas yang akhirnya terkubur lebih dalam. Saat itu, Rini hanya bisa diam ketika suaminya mulai bicara soal “mengubah nasib” lewat aplikasi judi online. Dari satu aplikasi ke aplikasi lain, uang habis, kepercayaan pun runtuh.

“Ini untuk kita, Rin. Biar bisa cepat balik modal,” kata suaminya suatu malam sambil menatap layar HP.

Tapi modal tak pernah kembali. Yang datang malah tagihan demi tagihan, disusul teriakan dan tangan yang mulai ringan menghantam.

Tia, anak sulung mereka, mulai berubah. Ia yang biasanya ceria, kini jadi pendiam. Suatu malam, ia menangis sambil memeluk ibunya.

“Bunda, kalau kita miskin, kenapa Ayah marah-marah terus? Apa Tia salah?”

Pertanyaan itu menghantam Rini lebih keras dari tamparan suaminya. Ia tahu ini bukan hanya tentang ekonomi. Ini tentang hilangnya ketahanan. Hilangnya pemahaman. Dan tentang sistem yang membiarkan keluarga kecilnya hancur perlahan.

Kisah Rini bukan satu-satunya. Badan Pusat Statistik mencatat, sepanjang 2024 ada 394.608 kasus perceraian. 88.842 kasus terjadi di Jawa Barat, itu merupakan angka tertinggi yang mencengangkan. Bahkan menurut Kepala DP3AKB Jawa Barat, Siska Gerfianti, provinsi ini juga mencatat kasus KDRT tertinggi kedua secara nasional.

Apa penyebabnya? Bukan hanya soal cinta yang pudar. Tapi karena pinjol, judol, dan tekanan hidup yang tidak mampu ditanggung oleh ikatan yang rapuh.

Bimbingan Pranikah Bukan Cuma Formalitas

Beberapa waktu lalu, pemerintah Jawa Barat mengadakan Training of Trainer (ToT) Sekolah Pranikah. Lebih dari 1.500 peserta ikut serta. Ini langkah maju. Karena sesungguhnya, pernikahan bukan soal resepsi. Ia soal kesiapan mental, tanggung jawab, dan pemahaman akan makna keluarga.

Dalam sesi pelatihan itu, seorang fasilitator bertanya, “Apa yang kalian siapkan untuk 10 tahun pernikahan kalian nanti?”

Beberapa peserta terdiam. Karena nyatanya, banyak pasangan muda tak pernah berpikir sejauh itu. Mereka hanya siap mencinta, tapi tak siap bertahan.

Solusi Islam

Islam tak hanya mengatur nikah dan cerai. Ia membangun pondasi keluarga. Rasulullah saw. adalah contoh suami terbaik. Beliau membantu pekerjaan rumah, memperhatikan perasaan istri, dan menjadi sahabat bagi anak-anaknya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya…” (QS. Ar-Rum: 21)

Umar bin Khattab pun dikenal sebagai pemimpin yang sigap dalam menangani kebutuhan rakyatnya. Ia tak membiarkan rakyat lapar, apalagi sampai berutang untuk hidup.

Kisah sejarah Islam menunjukkan, hanya dengan sistem yang berlandaskan wahyu, keluarga bisa bertahan dalam badai. Karena di dalamnya ada kasih, tanggung jawab, dan perlindungan nyata dari negara.

Akhir yang Tak Perlu Terjadi

Rini akhirnya resmi bercerai. Tia tinggal bersama ibunya. Dalam sesi konseling terakhir, Rini berkata lirih,

“Andai dulu kami tidak hanya bermodal cinta, tapi belajar untuk bertanggung jawab dengan landasan iman yang kuat… Mungkin rumah ini masih utuh.”

Kini ia bertekad, Tia harus tumbuh berbeda. Ia akan ajarkan tentang Islam. Tentang bagaimana Rasul membina rumah tangga. Ia ingin kelak anaknya membangun rumah, bukan hanya dinding, tapi benteng iman.

Angka bisa turun. Asal semua sadar. Pemerintah bergerak. Masyarakat belajar. Dan kita kembali pada nilai-nilai hakiki. Rumah tak dibangun dengan cinta semata. Tapi juga dengan iman, ilmu, dan sistem yang benar.

Karena rumah yang kuat, tak akan tumbang hanya karena badai ekonomi.
Rumah yang dibangun atas nama Allah, tak akan retak hanya karena pinjol dan godaan dunia.

Dan kisah Tia, jika kita mau belajar tak perlu menjadi kisah anak-anak kita.

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)