LingkarJabar – Rakyat menangis kelaparan di tengah berkelimpahan. Hal memilukan terjadi di Cianjur, Jawa Barat, seorang anak mengalami busung lapar akibat gizi buruk. Padahal, Cianjur merupakan kota penghasil beras yang banyak.
Beras yang merupakan makanan pokok rakyat Indonesia yang diolah menjadi nasi, stoknya diklaim melimpah, namun sayang di lebih dari 130 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga beras pada pekan kedua Juni 2023, sehingga masyarakat kesulitan untuk mendapatkan beras. Harga beras medium melampaui HET (Harga Eceran Tertinggi), hal itu memberatkan rakyat kecil.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memastikan stok berlaku nasional dalam kondisi aman. Bahkan membantah stok beras dalam negeri menipis. Selain itu, Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengakui bahwa Indonesia merupakan negara swasembada beras selama 3 tahun berturut-turut.
Berdasarkan data Badan Statistik per April 2022, disebutkan bahwa Indonesia masih memiliki stok beras 10 juta kilo gram lebih, dan itu pun belum termasuk hasil panen dua tahap. Di samping itu, adanya kebijakan yang mewajibkan Bulog menyerap gabah petani dalam jumlah besar justru menciptakan penumpukan stok di gudang. Akan tetapi akibatnya, suplai beras ke pasar terganggu dan harga menjadi naik.
Mendagri mengatakan,masyarakat jangan enggan untuk membeli beras bulog yang harganya 10.000 perkilo, beliau pun mengatakan mengkonsumsi beras bisa beralih dengan mengkonsumsi seperti jagung.
Sedangkan sebagian ibu-ibu mengurangi jatah makan nasi karena beras mahal, apalagi untuk mereka yang berjualan nasi warteg, mereka tidak bisa menaikan harga nasi walaupun harga beras naik.
Menurut Direktur Utama Bulog, Budi Waseso harga beras naik dikarenakan ada beberapa faktor, diantaranya adalah adanya persaingan dari pembeli pengusaha, produksi beras menurun dan didorong faktor external yaitu adanya topan doksuri yang mengakibatkan banjir di negara Cina dan negara Cina merupakan negara penghasil beras terbesar (compas.com).
Dalam sistem yang ada pada saat ini yaitu sistem kapitalis, dimana tidak pro-rakyat, tetapi tunduk pada mekanisme pasar dan kepentingan elite. Sistem kapitalisme juga menganggap pangan bukan hak dasar rakyat yang wajib dijamin negara, melainkan komoditas yang bisa diperdagangkan demi keuntungan.
Dalam sistem kapitalis, keberadaan negara hanya bertindak sebagai regulator, bukan pelindung atau penjamin distribusi yang adil. Akibat sistem ini juga, pada akhirnya rakyat miskin menjadi korban fluktuasi harga.
Dengan abainya negara pada rakyat maka kebutuhan pokok rakyat pun sering tidak terpenuhi. Kemiskinan di negara kita terus bertambah bukan karena sumber dayanya yang kurang, namun karena pengelolaannya yang tidak tepat. Alih-alih kemiskinan di Indonesia berkurang, bukan karena mereka menjadi sejahtera tapi mereka mati menahan lapar.
Ironis memang, melihat Indonesia sebagai negara yang subur makmur kaya akan pertaniannya, namun masih kekurangan dalam hasilnya. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk mengingatkan mereka sebagai wakil rakyat, dan rakyat pun tidak cukup dengan kata yang penting ada barang dan ada uang. Kita pun harus peduli terhadap mereka yang kesulitan untuk mendapatkan bahan pokoknya.
Solusi Dalam Sistem Islam
Sistem Islam memberi kewenangan pada negara untuk menjamin kebutuhan pokok rakyat, diantaranya pangan. Negara akan memfasilitasi untuk mengelola produksi, distribusi, dan cadangan pangan secara langsung, tanpa menjadikannya komoditas dagang.
Dalam sistem Islam negara akan memberi subsidi bibit, bubuk, maupun memberikan kepada petani secara cuma-cuma untuk menjamin kualitas beras yang dihasilkan. Negara juga melarang penimbunan dan memastikan distribusi merata, sehingga harga stabil dan rakyat terjamin.
Dan dalam sistem Islam negara akan memastikan harga barang-barang yang tersedia di masyarakat mengikuti mekanisme pasar, bukan dengan mematok harga.Hal ini pun merupakan ketundukan pada syariat Islam yang melarang adanya intervensi harga. Maka, solusi hakiki bukan tambal sulam regulasi, tapi perubahan sistem kapitalisme menjadi sistem Islam.
Peran negara dengan kepemimpinan seorang pemimpin yang amanah akan menjadikan kehidupan masyarakat sejahtera. Di dalam hadist Rasulullah Saw bersabda : “Pemimpin itu adalah pelayan rakyat” (HR. Abu Daud). Artinya, rakyatlah yang dilayani, diurus segala urusannya, bukan sebaliknya rakyat yang melayani pemimpin.” Negara wajib untuk melayani rakyat terlebih kebutuhan pokok secara gratis tanpa dipungut biaya.
Wallahu’alam Bishshawab
Penulis : Cucu
(Pegiat Literasi)






