Opini  

Jam Malam untuk Pelajar, Langkah Awal Pendidikan Berkualitas

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd. (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

LingkarJabar – Jam malam atau larangan keluyuran malam bagi pelajar akan diberlakukan secara resmi dan telah ditandatangani pada 23 Mei 2025 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tercantum dalam Surat Edaran Gubernur Nomor 51/PA.03/DISDIK. Gubernur Dedi Mulyadi menetapkan bahwa mulai pukul 21.00 hingga 04.00 WIB, peserta didik dilarang melakukan aktivitas di luar rumah.

Kebijakan ini bertujuan untuk membentuk generasi muda yang cerdas, baik, benar, sehat, dan terampil (Panca Waluya). Namun, kebijakan ini masih memberikan pengecualian untuk kegiatan sekolah, keagamaan, kebersamaan dengan orang tua, atau kondisi darurat.

Kebijakan ini patut mendapatkan apresiasi, sebagai langkah awal untuk pendidikan berkualitas. Pelarangan keluar malam membatasi ruang gerak fisik, tapi belum menyentuh akar ideologi dan gaya hidup yang membentuk perilaku generasi muda. Sehingga perlu solusi yang menyeluruh dan mendalam untuk kepribadian generasi yang mampu mencetak peradaban mulia.

Kapitalisme Sekuler, Akar Rusaknya Generasi

Kapitalisme sekuler menanamkan pandangan hidup yang menjauhkan manusia dari aturan agama. Dalam sistem ini, kebebasan menjadi nilai utama. Pelajar merasa bebas mengekspresikan diri, bahkan tanpa batas. Mereka mengejar popularitas, eksistensi, dan materi, karena sistem mengajarkan bahwa itulah ukuran bahagia.

Kapitalisme menjadikan pelajar sebagai pasar konsumtif. Mulai dari game, skincare, hingga gaya hidup, semua diarahkan untuk membentuk generasi yang berpikir pendek. Tujuan pendidikan pun berubah menjadi alat untuk mengejar materi, bukan membentuk kepribadian Islam. Pelajar lebih mengenal selebriti TikTok daripada tokoh ilmuwan atau sahabat nabi.

Menurut sosiolog Emile Durkheim, hilangnya kendali nilai dalam masyarakat modern menyebabkan anomie atau kekosongan norma. Remaja hidup tanpa arah karena sistem sekuler gagal membentuk akhlak. Ulama seperti Imam Al-Ghazali juga menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak sejak dini. Tanpa itu, aturan jam malam hanya akan bersifat teknis dan mudah dilanggar.

Solusi Islam, Pendidikan Berbasis Akidah dan Kontrol Sosial

Islam menawarkan solusi mendasar. Pendidikan dalam Islam bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi juga membentuk kepribadian yang taat kepada Allah. Tujuan pendidikan adalah mencetak manusia yang paham halal dan haram. Islam tidak hanya membatasi jam malam, tetapi juga mengatur pergaulan, pemanfaatan waktu, dan adab dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Dalam hadis, Rasulullah Saw. bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam mendorong kontrol sosial oleh keluarga, masyarakat, dan negara. Ketiganya berperan aktif dalam membina generasi, bukan hanya membatasi geraknya.

Islam tidak hanya mengatur perilaku (nafsiyah), tetapi juga pola piker (akliyah). Dalam sistem Islam, pelajar tidak dicekoki standar kebahagiaan berupa materi atau popularitas. Kebahagiaan adalah saat manusia hidup sesuai syariat. Ilmu dunia dan akhirat dipadukan dalam pendidikan Islam.

Penutup

Pada masa Rasulullah Saw. pendidikan Islam melahirkan generasi luar biasa. Para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Abbas menjadi ilmuwan dan pemimpin sejak usia muda. Mereka hidup sederhana, tidak terpikat dunia, dan mengabdi untuk Islam. Tujuan pendidikan saat itu adalah membentuk generasi yang mampu memimpin umat, bukan sekadar mengejar ijazah atau pekerjaan bergaji besar.

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)