BANJAR, LingkarJabar — Peringatan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 di Kota Banjar diwarnai gebrakan baru. Untuk pertama kalinya, PGRI Cabang Khusus IGTKI tidak hanya menggelar kegiatan olahraga, tetapi menghadirkan lomba senam irama ciptaan sendiri sebagai ajang mengukur kreativitas sekaligus profesionalitas guru TK.
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi para pendidik untuk menilai sejauh mana kemampuan mereka dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Sebanyak 28 peserta dari tujuh kelompok ikut berkompetisi, menampilkan koreografi, pemilihan musik, hingga pola lantai yang seluruhnya dirancang secara mandiri. Lomba ini tidak sekadar adu keterampilan gerak, tetapi juga bentuk penerapan pemahaman guru terhadap karakteristik anak usia 4–6 tahun.
Ketua PGRI Cabang Khusus IGTKI Kota Banjar, Imas Rosita, mengatakan bahwa format kegiatan tahun ini memang dirancang untuk menguji kemampuan autentik guru di lapangan.
“Setelah kita tahu kemampuan kita sampai di mana, kita bisa memperbaiki banyak hal dalam pembelajaran. Kalau anak belum mampu mengikuti irama atau gerakan, itu bagian dari evaluasi juga bagi guru,” ujarnya kepada media, Kamis (27/11/2025).
Imas menambahkan, dari total 30 TK yang ada di Kota Banjar, sebagian besar telah mengikuti kegiatan ini. Beberapa sekolah tidak dapat hadir karena kondisi kesehatan guru yang tidak memungkinkan.
Peserta lomba dibagi per kecamatan—Banjar, Purwaharja, Langensari, dan Pataruman—serta satu kelompok tambahan khusus kepala sekolah. Kehadiran kelompok kepala sekolah ini menjadi perhatian tersendiri karena dinilai mampu menunjukkan bagaimana semangat dan kreativitas pemimpin lembaga pendidikan dibanding para guru muda.
“Kami ingin melihat apakah kepala sekolah masih punya kreativitas dan keterampilan untuk menciptakan gerakan senam yang sesuai bagi anak usia dini,” tutur Imas.
Lebih dari sekadar memeriahkan hari besar profesi pendidik, kegiatan ini dipandang sebagai momentum peningkatan mutu guru TK di Kota Banjar. Harapannya, para pendidik semakin profesional, mampu menilai potensi diri, serta menghadirkan pembelajaran yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami anak.
“Ke depan kami berharap ada perubahan dan peningkatan. Anak-anak bisa lebih mudah menyerap ilmu, dan guru semakin berkembang dalam keterampilannya,” tutup Imas Rosita. (Johan Wijaya)






