BOGOR, LingkarJabar — SMK Nuansa Cigombong, salah satu SMK swasta unggulan di Kabupaten Bogor, menggelar peringatan Isra Miraj Nabi Besar Muhammad SAW 1447 Hijriah di halaman sekolah, Jumat (30/01/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam pembinaan keimanan, ketakwaan, serta penguatan akhlak bagi seluruh warga sekolah.
Peringatan Isra Miraj tersebut diikuti oleh para siswa, guru, dan tenaga kependidikan dengan penuh kekhidmatan dan antusias. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia Isra Miraj, Ustaz Aab Abdul Rojak.
Dalam sambutannya, Ustaz Aab menekankan pentingnya menunaikan ibadah, khususnya menjaga kedisiplinan salat sebagai tiang agama. Ia mengajak seluruh siswa untuk menjadikan peringatan Isra Miraj sebagai sarana meningkatkan kualitas diri sebagai seorang muslim.
“Dengan peringatan Isra Miraj 1447 H ini, mari kita tingkatkan kualitas salat sebagai upaya memperbaiki diri dan membentuk pribadi muslim yang sejati,” ujar Ustaz Aab, yang juga merupakan guru agama di SMK Nuansa Cigombong.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peringatan Isra Miraj tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan agar para siswa lebih mengenal sejarah hari besar Islam, khususnya peristiwa penting ketika Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu.
“Peristiwa Isra Miraj mengajarkan kita tentang kesucian diri. Tidak mungkin kita meneladani Nabi yang menembus langit jika masih terjerumus dalam pergaulan yang merusak masa depan. Pergaulan bebas adalah jalan gelap yang menjauhkan kita dari cahaya Allah,” tegasnya.
Sementara itu, Beni Setiawan yang mewakili Kepala Sekolah SMK Nuansa Cigombong menyampaikan bahwa Isra Miraj bukan sekadar peristiwa sejarah tahunan, melainkan perjalanan spiritual yang sarat dengan nilai kebesaran dan cinta Allah SWT kepada hamba-Nya.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap para siswa tidak hanya unggul dalam kompetensi dan keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kerendahan hati serta kesadaran spiritual yang kuat. Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu membentengi siswa dan seluruh pendidik dari sifat sombong maupun putus asa dalam meraih cita-cita.
“Pemahaman akan kebesaran Allah yang tak terbatas ini diharapkan menjadi benteng moral, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi para guru dalam menjalankan tugas dan pengabdian,” pungkasnya. (Riswan Nurdin)






