Opini  

Luka Sunyi Anak Negeri

Luka Sunyi Anak Negeri

LingkarJabar – Langit sore itu tampak muram. Di sebuah ruang kecil, seorang anak laki-laki duduk di depan layar gawai, menatap foto ayahnya yang sedang tersenyum dalam seragam kerja. “Ayah sibuk, Nak. Nanti kalau Ayah libur, kita main, ya,” begitu pesan terakhir yang ia simpan setahun lalu. Namun “nanti” itu tak pernah datang.

Jutaan anak di negeri ini tumbuh dengan kisah serupa. Mereka bukan yatim, tapi kehilangan ayah dalam arti yang lebih sunyi, yakni kehilangan sosok yang hadir sepenuh hati. Bukan karena sang ayah tiada, melainkan karena ia kehilangan perannya sebagai pelindung dan pendidik. Inilah yang disebut fatherless: ketika seorang ayah hidup di rumah yang sama, namun jiwanya jauh entah di mana.

Menurut laporan berjudul “Lewat Media Sosial, Dukungan untuk Fatherless Mengalir” (10 Oktober 2025), ribuan anak Indonesia menumpahkan isi hati mereka di dunia maya. Kisah-kisah kehilangan itu membanjiri jagat digital tentang anak yang merindukan pelukan, ingin bercerita, tapi tak tahu kepada siapa.

Fenomena ini bukan sekadar kisah keluarga retak. Ia adalah krisis sosial yang menggerogoti bangsa dari dalam. Dalam artikel lainnya berjudul “Bagaimana Dampak Ketiadaan Sosok Ayah bagi Tumbuh Kembang Anak” (10 Oktober 2025), para psikolog mengingatkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa peran ayah rentan mengalami gangguan emosi, kesulitan membangun identitas diri, dan bahkan mudah terjebak dalam perilaku menyimpang.

Ketika Kapitalisme Mengubah Ayah Jadi Mesin Penghasil Uang

Suatu malam, di antara bisingnya mesin pabrik, seorang ayah menatap jam tangan. Sudah tengah malam, dan anaknya mungkin sudah tertidur. “Aku bekerja untuk mereka,” bisiknya pelan. Tapi entah sejak kapan, waktu bersama keluarga berganti dengan lembur dan target.

Beginilah wajah kapitalisme modern: menjadikan manusia sibuk mengejar angka, namun miskin makna dan kasih sayang. Sistem ini menuntut para ayah bekerja tanpa henti demi bertahan hidup di tengah harga-harga yang melambung.

Islam Memfungsikan Ayah Sebagai Qawwam

Dalam pandangan Islam, ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ia adalah pemimpin, pelindung, dan pendidik bagi keluarganya (qawwam). Namun sistem sekuler telah mengikis peran mulia itu.

Ketika dunia menuntut produktivitas tanpa batas, banyak ayah kehilangan arah. Mereka lelah mengejar dunia, sementara anak-anaknya kehilangan surga kecil bernama kasih sayang.

Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Rasulullah Saw. juga bersabda,“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya.”
(HR. Bukhari)

Ayah bukan sekadar penafkah, tapi penjaga nilai. Ia bertugas menanamkan iman, menegakkan adab, dan menjaga fitrah anak-anaknya.

Rasulullah Saw. sendiri memberi teladan yang lembut. Dikisahkan oleh Abdullah bin Ja’far ra., “Ketika Rasulullah saw. pulang dari bepergian, beliau disambut anak-anaknya. Aku pernah disambut dengan gendongan, dan Fathimah digendong di belakangnya. Kami pun berjalan bersama hingga masuk ke Madinah.” (HR. Muslim)

Begitulah Rasulullah Saw. sebagai sosok ayah sejati menjadi pemimpin umat yang tetap menyisihkan waktu untuk mendekap buah hatinya.

Fatherless bukan sekadar masalah keluarga, melainkan tanda bahwa sistem sosial kita sedang sakit. Kapitalisme menciptakan ayah-ayah yang sibuk tapi hampa; hadir tapi tak bermakna.

Islam menawarkan solusi yang paripurna. Negara dalam sistem Islam menjamin pekerjaan yang layak, waktu yang manusiawi, dan lingkungan yang mendukung peran ayah dan ibu sebagai pendidik utama. Anak-anak tumbuh dalam kehangatan, bukan keterasingan.

Kita tak butuh ayah yang sempurna. Kita butuh ayah yang hadir dengan cinta, tanggung jawab, dan iman. Karena sejatinya, kehadiran ayah bukan hanya di rumah, tapi di hati anak-anaknya.

“Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya.”
(HR. At-Tirmidzi)

Penutup

Fatherless adalah luka peradaban. Ia tak akan sembuh hanya dengan kampanye dan tagar. Ia menuntut keberanian untuk kembali pada sistem yang menempatkan keluarga di pusat kehidupan, sistem yang memuliakan ayah sebagai pelindung, ibu sebagai pengasuh, dan anak sebagai amanah.

Sudah saatnya para ayah pulang. Pulang, bukan hanya ke rumah, tapi ke hati anak-anaknya. Karena di situlah letak sejati kepemimpinan, yaitu pada kehadiran yang penuh kasih dan keteguhan iman.

Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)