Opini  

Harapan Bebas TBC yang Menyala di Tengah Luka

Harapan Bebas TBC yang Menyala di Tengah Luka. Foto: Net/LJ

LingkarJabar – Hujan baru saja reda di sebuah sudut Bandung. Di ruang tunggu rumah sakit, Rina duduk memeluk anaknya yang tampak pucat. Napas kecil itu tersengal, batuknya tak kunjung reda. Rina hanya bisa mengelus rambut sang buah hati, sambil menatap layar televisi yang menayangkan berita terbaru.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen mendukung target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030. Jawa Barat menjadi salah satu dari delapan provinsi yang ikut berikrar…” suara pembawa berita terdengar mantap.

Sejenak wajah Rina berbinar. Ia menoleh ke anaknya.
“Dengar itu, Nak? Mereka berjanji TBC akan hilang. Kamu akan sembuh, insyaAllah,” ucapnya sambil tersenyum.

Anaknya hanya mengangguk pelan. “Benarkah, Bu? Kita bisa sehat lagi?” tanyanya lirih.

Hati Rina bergetar. Ia ingin percaya, sekalipun hidup mengajarinya bahwa janji seringkali rapuh.

Di kursi sebelah, seorang bapak paruh baya ikut menyimak berita itu. Ia tersenyum getir.
“Janji itu bagus, Bu,” ujarnya pelan. “Tapi kalau hanya berhenti di layar televisi, rakyat tetap menanggung derita.”

Rina menatapnya, seakan ingin mendengar lebih banyak.

“Penyakit ini bukan sekadar soal obat. Banyak yang tidak mampu beli makanan bergizi. Lingkungan kita penuh polusi. Rumah-rumah sempit, lembab, tak layak huni. Selama itu belum diatasi, TBC akan terus ada,” sambungnya.

Perkataan itu seperti menyambar kesadaran Rina. Ia teringat pengeluaran rumah tangganya. Suaminya hanya buruh pabrik. Biaya berobat memang ada jaminan, tetapi transportasi, makanan sehat, dan vitamin tetap menguras isi dompet.

Luka yang Lebih Dalam dari Sekadar Penyakit

Beberapa waktu lalu, seorang peneliti kesehatan, Dr. Ir. Rini Syafri, M.Si., mengatakan, “Kesehatan adalah kebutuhan dasar masyarakat. Dalam sistem kapitalisme, kesehatan berubah jadi objek industri. Padahal kesehatan seharusnya hak, bukan barang dagangan.”

Rina menghela napas panjang. Ia melihat langsung kebenaran itu. Obat memang tersedia, tapi panjangnya pengobatan membuat pasien putus asa. Beberapa tetangga anaknya bahkan berhenti berobat karena efek samping yang melelahkan.

“Bu, teman saya di kampung juga kena TBC,” si kecil kembali berbisik.
Rina mengangguk. “Iya, Nak. Penyakit ini mudah menular. Karena itu kita harus kuat. Tapi seharusnya negara bisa membuat kita benar-benar terlindungi.”

Kapitalisme telah mengubah wajah kesehatan menjadi ladang bisnis. Vaksin dan obat terus dipasarkan, tetapi penyebab mendasar TBC, kemiskinan, gizi buruk, lingkungan kotor, tidak tersentuh.

“Selama kita hidup dalam sistem seperti ini, rakyat kecil akan selalu jadi korban,” ujar bapak tadi lagi.
Rina hanya terdiam. Kata-kata itu menohok.

Cahaya dari Sejarah Islam

Di tengah kegelisahan, Rina teringat pengajian yang pernah ia ikuti. Ustaz di kampungnya bercerita tentang bagaimana Rasulullah saw. dan para khalifah dahulu menghadapi penyakit menular. Orang sakit dipisahkan agar wabah tidak menyebar. Rakyat diberi pengobatan gratis. Negara memastikan kebutuhan dasar, termasuk gizi, tetap terpenuhi.

Allah Swt. berfirman,
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Isra: 82).

Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Rina tertegun. Ia membayangkan betapa indahnya jika ada negara yang benar-benar menanggung kesehatan rakyat, tanpa diskriminasi, tanpa biaya tersembunyi. Negara yang dana kesehatannya bersumber dari baitulmal, bukan dari skema industri yang menjerat.

Anaknya kembali menatapnya dengan mata sayu.
“Bu, kalau negara bisa seperti zaman Nabi, pasti semua orang sembuh ya?”
Rina tersenyum, matanya basah. “Iya, Nak. Dulu memang begitu. Pemimpin saat itu tidak membiarkan rakyatnya sakit tanpa pertolongan. Mereka tanggung jawab penuh, karena mereka tahu Allah akan menanyai mereka di akhirat.”

Sang bapak menambahkan, “Kalau kita mau sungguh-sungguh bebas dari TBC, kita butuh sistem yang benar-benar berpihak pada rakyat. Islam sudah membuktikannya. Sejarah mencatat, masyarakat sehat bukan karena obat semata, tapi karena negara hadir melindungi.”

Penutup

Berita di televisi kembali menayangkan slogan besar: “Indonesia Bebas TBC 2030.” Rina menatap layar itu dengan hati yang campur aduk.

“Semoga bukan sekadar janji, Nak,” bisiknya pelan.
Anaknya menggenggam erat tangannya. “Ibu, Allah pasti kasih jalan.”

Air mata Rina menetes. Ia sadar, janji manusia bisa goyah, tapi janji Allah tak pernah ingkar. Harapan sejati hanya akan hidup jika negara benar-benar menjalankan amanahnya. Jalan Islam telah memberi teladan. Dan di sanalah, impian bebas TBC bukan lagi mimpi, tetapi kenyataan yang mungkin terwujud.

Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)