Opini  

Dari Seribu Menuju Sejuta Harapan

Dari Seribu Menuju Sejuta Harapan

LingkarJabar – Langit Bandung sore itu mendung. Di halaman sekolah negeri di Cikancung, seorang siswa bernama Nara menggenggam uang koin seribu rupiah. Ia menatap koin itu lama, seolah berbicara dengan dirinya sendiri.

“Seribu rupiah ini kecil, Bu. Tapi kata guru, kalau semua orang Jabar menyumbang seribu, bisa bantu banyak orang yang kesulitan,” ujarnya polos kepada ibunya yang sedang menjajakan gorengan di depan sekolah.

Ibunya tersenyum lembut. “Nak, kebaikan tidak diukur dari besar uangnya, tapi dari tulusnya hati.”

Ucapan itu seperti menembus hati siapa pun yang mendengarnya. Di balik gerakan Rereongan Sapoe Sarebu yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tersimpan denyut harapan rakyat kecil. Sebuah gerakan gotong royong yang menumbuhkan kembali nilai silih asih, silih asah, silih asuh yang merupakan tiga pilar kearifan lokal Sunda yang mulai pudar di tengah hiruk pikuk modernitas.

Gerakan ini mengajak ASN, pelajar, hingga masyarakat umum untuk menyisihkan seribu rupiah per hari demi membantu kebutuhan darurat di bidang pendidikan dan kesehatan (4 Oktober 2025).

Dialog di Warung Kopi: Antara Kepedulian dan Keresahan

Di sebuah warung kopi di pinggir jalan raya, dua pria paruh baya terlibat percakapan hangat.

“Hebat juga ya, Kang. Pemerintah bikin gerakan rereongan. Jadi rakyat bisa saling bantu,” kata Asep sambil menyeruput kopi hitam.

Dadan, sahabatnya, menatap kosong ke arah jalan. “Iya, bagus sih. Tapi aku kadang mikir, Kang. Kalau rakyat harus bantu rakyat untuk urusan sekolah dan rumah sakit, lalu negara ngapain?”

Asep terdiam. Ia tahu Dadan bukan sedang nyinyir. Itu kegelisahan yang jujur, lahir dari rasa cinta pada negeri.

Gerakan ini memang menggugah. Tapi di balik semangat solidaritas, ada pertanyaan besar tentang peran negara dalam menjamin pelayanan dasar. Ekonom senior Faisal Basri pernah menegaskan bahwa pembiayaan publik seharusnya tidak mengandalkan donasi rakyat, melainkan sistem fiskal yang adil dan kuat (14 September 2024).

Keduanya terdiam lama. Di antara denting sendok dan aroma kopi, muncul kesadaran yang dalam: kebaikan rakyat tidak boleh menjadi tameng bagi lemahnya sistem negara.

Refleksi di Tengah Malam: Negara yang Berjarak

Malam itu sunyi. Di rumah kayu sederhana, seorang guru honorer menulis catatan di buku kecilnya.

“Negara seharusnya mengurus, bukan mengimbau. Tapi sekarang, negara lebih sering meminta rakyat menambal lubang-lubang tanggung jawabnya.”

Ia berhenti menulis. Pandangannya kosong, hatinya gelisah.

Pemerintah yang seharusnya hadir justru tampak jauh. Ia bukan lagi pengayom, melainkan penonton. Rakyat terus bergotong royong, tapi sistem yang menopang kehidupan justru dibiarkan rapuh.

Dalam sistem sekuler-kapitalistik, kebijakan sering terjebak dalam lingkaran kepentingan. Pemimpin terpilih sibuk menjaga citra, bukan menegakkan amanah. Rakyat dibiarkan percaya bahwa solusi selalu datang dari dompet mereka sendiri.

Cahaya Islam : Saat Negara Menjadi Pelindung

Namun sejarah tak pernah padam. Di masa Rasulullah Saw., negara berdiri di atas asas tanggung jawab dan kasih sayang.

Rasulullah Saw. bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di masa itu, negara tidak meminta rakyat berdonasi untuk pendidikan dan kesehatan. Negara menanggungnya melalui Baitulmal. Sumber keuangannya bukan pajak rakyat miskin, tetapi dari pengelolaan sumber daya alam, fai’, jizyah, kharaj, dan zakat.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menulis dalam Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, bahwa penguasa harus kuat, bertakwa, dan lembut terhadap rakyat. Kekuatan itu bukan pada otot, tapi pada kepribadian, pada kemampuan memimpin dengan akal dan jiwa yang tunduk pada hukum Allah.

Dalam sistem Islam, negara tidak pernah menunggu rakyat menolong negara. Justru negara yang berlari paling depan, memastikan setiap warga hidup layak, sehat, dan berpendidikan.

Seribu Rupiah yang Mengajarkan Banyak Hal

Keesokan harinya, Nara kembali membawa uang seribu rupiah ke sekolah. Ia menyerahkannya dengan wajah bahagia.

“Ini untuk yang butuh, Bu,” katanya.

Guru itu tersenyum haru. “Terima kasih, Nara. Semoga Allah membalas kebaikanmu.”

Di balik koin kecil itu, ada pesan besar: rakyat Indonesia tak pernah kehilangan hati. Mereka selalu siap berbagi, bahkan saat mereka sendiri kekurangan.
Namun, semangat mulia ini seharusnya menjadi energi negara untuk memperbaiki sistem, bukan menggantikan tanggung jawabnya.

Gotong royong memang indah, tapi ia akan lebih bermakna bila negara berdiri tegak sebagai pelindung, bukan penonton.

Epilog: Dari Kebaikan Menuju Keadilan

Seribu rupiah mungkin tak mengubah dunia, tapi ia bisa menggugah hati penguasa. Ia bisa menjadi cermin bahwa rakyat sudah berbuat, kini saatnya negara bertindak.

Rereongan Jabar adalah gerakan kemanusiaan yang patut diapresiasi. Namun lebih dari itu, ia adalah panggilan nurani, agar negeri ini kembali pada fitrahnya, sebagai negara yang mengurus, bukan sekadar mengimbau.

Karena di balik setiap receh yang diberikan, tersimpan doa yang tulus:
“Semoga kelak, negeri ini dipimpin oleh mereka yang kuat, bertakwa, dan mengayomi, sebagaimana Rasulullah Saw. menuntun umatnya dengan cinta dan tanggung jawab.”

Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)