Opini  

Aktivisme Tanpa Ideologi

LingkarJabar – Di malam yang tenang, dua anak muda duduk di teras sebuah kafe. Lampu jalan memantul di permukaan meja, sementara aroma kopi bercampur dengan udara dingin yang pelan-pelan turun. Di tangan mereka, layar ponsel menyala, tagar bergerak cepat, amarah berdesakan, kata-kata berloncatan tanpa sempat menetap.

Bayu menatap layar itu lama, lalu mematikannya.
“Lucu ya,” katanya lirih, “kita merasa sedang melawan dunia, tapi besok pagi dunia tetap berjalan seperti biasa.”

Angga tersenyum tipis, lebih mirip kelelahan daripada tawa.
“Karena yang kita lawan cuma gema,” jawabnya. “Bukan sumbernya.”

Bayu menyandarkan punggung. “Padahal semua orang marah. Semua orang bicara.”

“Ya,” sahut Angga pelan, “tapi tidak semua kemarahan punya arah. Tidak semua suara punya makna.”

Malam kembali sunyi. Di antara mereka, notifikasi terus berdenting, seperti pengingat bahwa zaman ini bergerak cepat, sementara kesadaran manusia tertinggal beberapa langkah di belakang.

Ruang digital telah melahirkan wajah baru aktivisme: cepat, reaktif, dan sarat emosi. Arus informasi bergerak begitu deras sehingga respons publik kerap lahir dari dorongan sesaat, bukan dari perenungan mendalam atau perencanaan kelembagaan yang matang. Yang viral segera dianggap penting; yang sunyi, meski substansial, kerap terabaikan.

Fenomena ini dalam kajian akademik dikenal sebagai slacktivism atau clicktivism, yaitu bentuk keterlibatan politik ringan yang berhenti pada simbol-simbol digital. Unggahan, tagar, dan klik memberi ilusi partisipasi, tetapi jarang bertransformasi menjadi aksi nyata yang terukur. Kritik terhadap hashtag activism menegaskan bahwa jangkauan luas tidak selalu berbanding lurus dengan daya ubah. Partisipasi menjadi ramai, namun dangkal.

Lebih problematis lagi, ruang digital turut memproduksi krisis kepercayaan. Banjir narasi yang saling bertabrakan, diperparah oleh algoritma yang mengutamakan keterlibatan emosional ketimbang kedalaman argumen, menciptakan kebingungan kolektif. Dalam lanskap seperti ini, suara paling bising sering kali mengalahkan suara paling jernih. Akibatnya, generasi muda kesulitan menemukan arah perubahan sosial yang benar-benar alternatif dan membebaskan.

Kekosongan arah tersebut tercermin pula pada absennya figur teladan ideologis. Bukan karena minimnya anak muda cerdas, melainkan karena perjuangan sering dijalankan tanpa peta konseptual yang berakar pada nilai. Gerakan pun terjebak dalam pola reaktif yang menjawab gejolak hari ini tanpa menawarkan rancangan sistemik untuk masa depan.

Solusi Islam: Kesadaran Politik yang Berakar Ideologi

Dalam perspektif Islam, aktivisme tidak dipahami sebagai letupan emosi sesaat, melainkan sebagai ikhtiar perubahan yang bertumpu pada nilai kokoh dan visi menyeluruh. Sumbernya jelas, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Pertama, prinsip amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar seruan moral, tetapi mandat perubahan sosial yang bertanggung jawab. Allah Swt. memerintahkan agar dakwah dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik (QS. An-Nahl: 125). Hikmah meniscayakan kejernihan berpikir, strategi yang matang, serta kesabaran dalam membangun kesadaran—bukan respons impulsif yang mudah padam.

Kedua, Rasulullah saw. memberikan teladan perjuangan ideologis yang terstruktur. Beliau tidak memulai perubahan dengan konfrontasi massal tanpa arah, melainkan dengan pembinaan akidah, pembentukan komunitas, dan penanaman nilai keadilan sosial. Perubahan negara di Madinah adalah buah dari proses panjang pembentukan manusia dan kesadaran kolektif.

Model ini diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin. Umar bin Khattab, misalnya, tidak memimpin dengan reaksi sporadis, tetapi dengan membangun sistem administrasi, keadilan ekonomi, dan tata kelola publik yang berpijak pada nilai Islam. Perubahan hadir bukan karena tekanan sesaat, melainkan karena visi ideologis yang diterjemahkan menjadi institusi.

Ketiga, Islam menawarkan solusi dengan menggeser fokus aktivisme dari aksi sporadis menuju pendidikan ideologis. Literasi politik berbasis nilai menjadi kunci agar generasi muda memahami bukan hanya cara bersuara, tetapi juga tujuan dan arah perjuangan mereka.

Keempat, Islam menekankan pentingnya organisasi berbasis nilai sebagai pemandu arah dan teladan perjuangan. Sejarah umat menunjukkan bahwa perubahan sosial yang nyata lahir dari struktur yang kokoh, berprinsip, dan konsisten, bukan dari pragmatisme reaktif yang mudah berubah arah.

Penutup

Aktivisme yang berputar pada kecepatan reaksi digital semata tidak cukup untuk melahirkan perubahan hakiki. Yang dibutuhkan adalah perjuangan yang berakar ideologis, bersifat sistemik, dan berorientasi jangka panjang. Perubahan sejati tidak lahir dari kemarahan sesaat, tetapi dari visi yang jelas dan strategi yang mampu menembus struktur sosial serta politik.

Dalam konteks inilah Islam hadir sebagai kerangka alternatif yang utuh, dengan menggabungkan nilai, arah, dan organisasi. Ia menawarkan jalan keluar dari aktivisme yang bising namun hampa, menuju perjuangan yang tenang, terarah, dan berdaya ubah.

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)