Opini  

Angka Stunting Turun, Banyak Suara Kecil yang Belum Tumbuh

Angka Stunting Turun, Banyak Suara Kecil yang Belum Tumbuh

LingkarJabar – Ruang rapat itu hening sebelum tepuk tangan pecah. Para pejabat berdiri memberi apresiasi ketika Menko PMK, Pratikno, menyerahkan penghargaan kepada Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan. Jawa Barat dinobatkan sebagai Provinsi Terbaik I dalam penurunan angka stunting.

Namun, di balik gemuruh tepuk tangan itu, masih banyak suara kecil yang belum bisa bicara untuk dirinya sendiri: bayi-bayi yang lahir dengan berat badan rendah, balita yang belum kuat berdiri, ibu yang menahan lapar agar anaknya bisa makan. Angka boleh menurun. Tetapi apakah kehidupan semua anak sudah membaik?

Dialog Senja: Ketika Fakta Bertemu Kesadaran

Sore itu, saya duduk di sebuah posyandu desa. Seorang kader muda bernama Lili menghampiri saya.
“Pak, alhamdulillah angka stunting turun, ya?” ia bertanya sambil tersenyum.
Saya mengangguk. “Benar. Ini prestasi besar.”
Lili duduk di samping saya. Suaranya kemudian lirih.
“Tapi saya masih sering lihat anak-anak yang berat badannya stagnan. Ibunya juga bilang harga telur naik lagi. Mereka bingung harus makan apa.”
Saya terdiam sejenak.
“Turunnya angka itu kabar baik, Li. Tapi pekerjaan kita belum selesai.”
Ia menatap catatan kecilnya. “Kadang saya bingung, Pak. Masalahnya ini seperti lingkaran besar. Gizi kurang, pekerjaan sulit, harga pangan naik, layanan kesehatan jauh.”
Kata-katanya menyentuh saya.
Capaian pemerintah itu penting. Namun, di baliknya ada realitas rakyat yang masih berjuang dari hari ke hari.

Membaca Akar Masalah: Antara Angka dan Manusia

Stunting bukan sekadar urusan makanan tambahan. Stunting bukan sekadar program. Stunting adalah tanda bahwa kebutuhan dasar belum terpenuhi. Saya melihat empat masalah besar yang sering hadir di desa-desa: pengasuhan yang terbatas ilmu, layanan kesehatan yang tidak merata, gizi yang tidak terjangkau, sanitasi yang masih buruk, penguasaan sumber daya alam yang dikelola oleh segelintir pihak, sementara rakyat menanggung harga pangan yang terus naik.

“Pak, kalau harga daging bisa turun sedikit saja, mungkin anak-anak ini bisa makan lebih baik,” kata seorang ibu kepada saya.

Keinginan sederhana, tetapi menggambarkan persoalan fundamental: bagaimana negara memastikan rakyat mampu mengakses gizi dan kesehatan, bukan hanya sekali, tetapi sepanjang hidup mereka?

Dialog di Teras Rumah: Harapan dari Ibu Muda

Di sebuah kampung di pinggiran Sumedang, saya menemui seorang ibu muda bernama Imah. Ia sedang menimang anak laki-lakinya yang tampak kurus.

“Saya berusaha, Pak,” katanya dengan mata berkaca. “Kadang saya yang tidak makan supaya anak ini masih punya jatah.”

Saya menarik napas dalam-dalam.

“Negara sedang berusaha, Bu. Banyak program baru sekarang,” kata saya mencoba menenangkannya.

Ia mengangguk. “Saya tahu. Tapi program makan tambahan itu datangnya tidak sering. Kalau lagi tidak ada, ya kami kembali bingung.”

Kalimat itu masuk ke hati saya seperti dentuman halus, tetapi dalam.
Di sinilah saya sadar bahwa angka statistik tidak mampu menggambarkan perjuangan sehari-hari para ibu.

Solusi Islam: Jalan Hidup yang Menjamin, Bukan Menggugurkan Target

Di tengah refleksi panjang ini, saya teringat kembali pada konsep Islam dalam memandang manusia. Islam tidak memisahkan urusan gizi, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Islam menempatkannya sebagai kebutuhan dasar yang wajib ditanggung negara.

Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR al-Bukhari)

Hadis ini sangat jelas. Pemimpin bukan hanya mengatur, tetapi menjamin.

Dalam sistem Islam, negara menjamin layanan kesehatan gratis. Ibu hamil dan balita mendapatkan layanan kesehatan menyeluruh, mulai dari pemeriksaan, pengobatan, hingga nutrisi tambahan. Semua gratis. Semua cepat. Semua merata.

Negara menjamin ketersediaan pangan dan harga yang terjangkau. Negara mengelola kekayaan umum seperti tambang, hutan, dan air untuk kepentingan rakyat. Hasilnya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pangan murah, lapangan kerja yang luas, dan ekonomi yang stabil.

Allah Swt. berfirman, “…agar harta itu jangan beredar hanya di antara orang-orang kaya saja.” (QS Al-Hasyr: 7)
Negara menyediakan pendidikan gratis dan literasi gizi. Dengan pendidikan yang mudah diakses, ibu memiliki literasi gizi yang baik, dan masyarakat tahu bagaimana mencegah stunting dalam 1.000 hari pertama kehidupan.

Negara mengawasi distribusi kekayaan. Sistem Islam mencegah lahirnya kesenjangan ekstrem yang memicu masalah gizi dan kemiskinan. Para khalifah telah mencontohkannya. Umar bin Khaththab mengirimkan makanan ke bayi-bayi yang berpotensi gizi buruk. Khalifah Umar bin Abdul Aziz memakmurkan rakyat hingga tidak ada lagi yang layak menerima zakat.

Semua itu bukan cerita suci; semuanya adalah catatan sejarah. Rasulullah saw. juga bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah…” (HR Ahmad, Ibnu Majah, an-Nasa’i)

Untuk membangun generasi kuat, gizi dan kesejahteraan bukan pilihan, tetapi itu kewajiban negara.

Penutup

Penghargaan Jawa Barat adalah langkah yang patut kita syukuri. Namun, langkah ini hanyalah awal. Kita masih punya tugas besar: memastikan semua anak tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Bukan hanya sebagian. Bukan hanya mereka yang dekat dengan fasilitas. Tetapi semua, dari kota hingga pelosok.

Saya teringat kembali ketika Lili berkata, “Pak, kapan ya semua anak bisa tumbuh kuat tanpa harus menunggu bantuan datang?”

Saya menjawab pelan, “Ketika negara berdiri di sisi rakyat, bukan sekadar di sisi statistik.”

Untuk itu, kita perlu membangun sistem yang menjamin, bukan sekadar menargetkan.
Sistem yang memelihara, bukan sekadar mengatur. Sistem yang berpihak pada rakyat sepenuhnya.

Dan sistem itu pernah hadir. Sistem itu terbukti membangun generasi unggul berabad-abad lamanya. Sistem itu menerapkan Islam kafah dalam segala aspek kehidupan, yang menyatukan iman, kebijakan, dan kasih sayang dalam satu tarikan nafas untuk memuliakan manusia.

Karena pada akhirnya, suara-suara kecil itu, mereka yang belum bisa bicara,
mereka yang hanya bisa menangis, berhak mendapat tempat terbaik di pangkuan peradaban.

Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)