LingkarJabar – Pagi itu, udara Bandung terasa lebih hangat dari biasanya. Aula tempat perhelatan West Java Investment Summit (WJIS) 2025 dipenuhi suara langkah dan percakapan dalam berbagai bahasa. Para investor, akademisi, birokrat, dan jurnalis berkumpul, seakan menyaksikan sebuah babak penting dalam peta ekonomi Jawa Barat.
Di tengah hiruk-pikuk itu, berdiri seorang perempuan muda bernama Nadira, dosen ekonomi yang datang sebagai pengamat independen. Dengan map berisi data dan catatan kecil, ia melangkah perlahan menyusuri lorong menuju ruang utama. Spanduk besar bertuliskan “Inclusive Investment for Our Shared Future” menggantung megah di pintu masuk.
“Investasi inklusif,” gumamnya pelan, “istilah yang indah. Tetapi, apakah definisinya sudah benar-benar kita mengerti?”
1. Ruang Presentasi: Antara Angka dan Fakta
Acara dimulai. Para pejabat memaparkan capaian: Target investasi Rp271 triliun, dengan 104 proyek strategis senilai lebih dari Rp186 triliun. Suara tepuk tangan menggema.
Nadira menatap layar LED itu. Ia tidak dapat menyangkal bahwa angka-angka tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun iklim ekonomi yang kondusif. Terlebih, Bank Indonesia menegaskan dukungannya melalui tiga pilar: stabilitas makroekonomi, sistem pembayaran yang kuat, dan percepatan digitalisasi.
“Fondasi yang kokoh,” pikir Nadira. “Namun fondasi saja belum menjadi rumah.”
Seorang jurnalis di sebelahnya berbisik, “Impresif, bukan?”
Nadira tersenyum sopan. “Impresif, ya. Tetapi saya selalu penasaran pada sisi yang tidak tampil dalam grafik.”
2. Dialog di Lorong: Pertanyaan yang Menyentuh Akar
Saat rehat, Nadira berbincang dengan beberapa peserta.
Seorang pelaku UMKM mengeluh tentang naiknya biaya hidup, sementara petani dari Majalengka menceritakan bahwa lahan-lahan produktif semakin berkurang.
“Investasi besar sering kali masuk ke sektor padat modal,” ujar Nadira, mengingat analisis Dr. R.A. Vidia Gati yang pernah ia baca. “Sektor seperti itu tidak banyak menyerap tenaga kerja. Tenaga kerja terbesar justru masih di pertanian, perdagangan kecil, dan jasa.”
Petani itu mengangguk. “Betul, Bu. Kadang kami merasa pembangunan itu ada, tapi tidak menjejak tanah tempat kami berdiri.”
Kalimat itu menempel dalam benak Nadira seperti gema yang sulit hilang.
3. Senja di Balkon: Merenungkan Arah
Saat matahari mulai turun, Nadira berdiri di balkon gedung pertemuan. Dari kejauhan, ia melihat gedung-gedung baru, jalan layang yang dibangun dengan dana investasi, dan deretan pabrik yang menjadi simbol kemajuan.
Namun, pikirannya melayang pada data ketimpangan global yang pernah ia kaji: 50% penduduk termiskin dunia hanya menguasai 1% kekayaan, sementara 10% orang terkaya menguasai hampir seluruh aset global.
Ia juga teringat firman Allah Swt. tentang bahaya penumpukan kekayaan, “…agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS Al-Hasyr: 7)
Ayat itu terasa seperti pengingat halus bahwa pembangunan harus tetap berpijak pada prinsip pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan.
4. Percakapan Terakhir: Menyentuh Hakikat Kesejahteraan
Menjelang penutupan acara, seorang pejabat mendekati Nadira.
“Menurut Anda, Bu Nadira, apa yang masih kurang dari formulasi investasi inklusif ini?”
Nadira berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Yang kurang mungkin adalah kesadaran bahwa kesejahteraan itu bukan kolektif, melainkan individual. Dalam sejarah ekonomi Islam, negara tidak dinilai dari besar kecilnya investasi, tetapi dari terpenuhinya kebutuhan tiap warga, mencakup pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan.”
Pejabat itu mengangguk pelan.
“Artinya,” lanjut Nadira, “investasi adalah alat, bukan tujuan. Tujuannya adalah manusia yang hidup lebih bermartabat.”
5. Penutup: Jalan Panjang Kesejahteraan
WJIS 2025 memang menunjukkan mimpi besar Jawa Barat. Namun, mimpi itu harus selalu ditemani pertanyaan yang jernih:
Apakah pertumbuhan telah berubah menjadi kesejahteraan?
Apakah investasi telah menjadi cahaya bagi semua, bukan hanya sebagian?
Nadira melangkah meninggalkan gedung itu dengan keyakinan bahwa pembangunan apa pun, besar atau kecil, baru layak disebut berhasil ketika ia menyentuh kehidupan tiap-tiap insan, bukan sekadar menambah deret angka dalam laporan tahunan.
Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)






