LingkarJabar – Pagi itu, di pinggir TPA Sarimukti, asap putih menari-nari di atas gunungan sampah. Bau menyengat menusuk hidung, bercampur dengan sisa hujan malam tadi. Di antara kepulan asap, seorang bocah kecil memungut botol plastik, memasukkannya ke dalam karung lusuh.
“Bu, katanya nanti sampah ini bisa jadi listrik, ya?” tanyanya polos kepada ibunya yang sedang memilah kertas bekas. Sang ibu tersenyum tipis, lalu berkata lirih, “Iya, Nak… katanya begitu. Tapi entah listrik itu nanti sampai ke rumah kita atau tidak.”
Kalimat sederhana itu menampar kesadaran. Di tengah rencana besar pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Jawa Barat, masih ada rakyat kecil yang hidup dari bau busuk sampah, bukan dari manfaat energi yang dijanjikan.
Janji Hijau di Tengah Abu Kapital
Gubernur Jawa Barat baru saja memastikan komitmen Danantara untuk membiayai pembangunan PLTSa di seluruh wilayah Jabar. Ia berbicara penuh semangat tentang solusi konkret mengatasi sampah dan penyediaan energi alternatif yang ramah lingkungan.
Namun, di balik panggung itu, muncul suara-suara lain.
“PLTSa bukan solusi sejati,” ujar perwakilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dalam konferensi pers yang disiarkan media. “Teknologi ini berisiko memperparah kerusakan lingkungan. Sampah tidak hilang, hanya berubah bentuk menjadi polusi baru.”
Aliansi Zero Waste Indonesia dan GAIA bahkan menyebut proyek ini sebagai “solusi palsu”—sebuah ilusi investasi yang membungkus racun dengan pita hijau.
Lantas, siapa yang benar? Apakah kita sedang menata masa depan hijau, atau sekadar mengalihkan bau busuk ke cerobong yang lebih tinggi?
Sampah dan Sistem yang Salah Arah
Di ruang rapat yang dingin, mungkin para pejabat dan investor sedang membahas angka—tonase, megawatt, dan nominal dolar. Namun di lapangan, rakyat kecil hanya melihat satu hal, yakni tumpukan sampah yang tak kunjung berkurang.
“Selama arah kebijakan tidak jelas, pengelolaan sampah akan terus tumpang tindih,” ujar Mohamad Bijaksana Junerosano, CEO Waste4Change (17 Februari 2024).
Dan memang benar. Persoalan utama bukanlah pada teknologi, melainkan pada cara pandang dan sistem yang melandasinya.
Di bawah sistem kapitalisme sekuler, sampah bukan lagi masalah sosial, melainkan peluang ekonomi. Negara didorong untuk membuka pintu investasi seluas-luasnya, seolah penyelamatan lingkungan hanya bisa dilakukan jika ada modal asing yang masuk.
Padahal, inilah akar luka terbesar bangsa ini, ketika standar kebijakan tidak lagi berlandaskan halal dan haram, melainkan untung dan rugi. Ketika bumi dijadikan komoditas, dan rakyat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Dialog di Tepi Sungai Citarum
Sore itu, di tepian Sungai Citarum yang airnya keruh kecokelatan, dua mahasiswa berdiri sambil memandang aliran air yang melambat.
“Kau tahu, Din,” ujar salah satunya, “kata dosenku, PLTSa bisa jadi solusi energi masa depan.”
Yang lain tersenyum miris. “Solusi? Atau ilusi? Kalau setiap solusi butuh investor asing, lalu di mana kedaulatan kita? Bukankah seharusnya negara berdiri di atas kekuatan rakyatnya sendiri?”
Hening. Hanya suara riak sungai yang terdengar.
Dialog itu menggambarkan keresahan banyak anak muda hari ini — mereka mencintai bumi, tapi kehilangan arah di tengah jargon pembangunan berkelanjutan yang kadang hanya menjadi kosmetik ekonomi.
Islam dan Pandangan Luhur tentang Alam
Islam memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan amanah dari Sang Pencipta. Setiap kebijakan harus berakar pada kesadaran bahwa manusia adalah khalifah di bumi, bukan penguasa yang bebas memperkosa sumber daya alam.
Rasulullah Saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam sistem Islam, negara bukan sekadar regulator proyek, tetapi pengurus yang melindungi rakyat dari kerusakan lingkungan dan penjajahan ekonomi. Kebijakan bukan ditentukan oleh investor, tetapi oleh kebutuhan umat dan kemaslahatan jangka panjang.
Negara akan menempuh langkah nyata dengan mengembangkan riset, mendanai inovasi dari kas Baitulmal tanpa ketergantungan pada modal asing, dan memastikan setiap kebijakan lingkungan sejalan dengan nilai keberlanjutan dan tanggung jawab di hadapan Allah Swt.
Ketika Kapitalisme Menyulut Api di Gunung Sampah
Di bawah sistem kapitalisme, setiap masalah selalu dijawab dengan proyek baru, bukan pembenahan sistem. Sampah dibakar, bukan diolah. Alam dikuras, bukan dijaga. Dan rakyat disuguhi narasi “pertumbuhan ekonomi” yang tak pernah benar-benar menyentuh kehidupan mereka.
Allah Swt. telah mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Ayat itu kini bukan sekadar peringatan, tapi kenyataan. Dari gunung sampah hingga hutan yang gundul, kita sedang menuai hasil dari kebijakan yang menjauhkan agama dari tata kelola bumi.
Penutup
Bayangkan suatu hari, di tempat yang sama di mana bocah kecil tadi memungut botol, berdiri fasilitas daur ulang yang dikelola anak-anak negeri. Energi terbarukan diciptakan bukan karena tekanan investor, tetapi karena dorongan iman dan tanggung jawab terhadap bumi.
Itulah cita-cita yang ditawarkan Islam, sebagai sistem yang menolak eksploitasi, menegakkan kemaslahatan, dan mengembalikan keseimbangan antara manusia dan alam.
Kita tak menolak kemajuan. Kita hanya ingin memastikan bahwa kemajuan itu tidak dibangun di atas penderitaan bumi dan rakyatnya.
Karena sejatinya, bumi ini bukan milik investor, ia milik Allah, dan kita hanya dititipi untuk menjaganya.
Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)






