Opini  

Tangisan Berdarah di Tepi Sumur

LingkarJabar – Pagi itu, Bandung masih berselimut embun. Namun, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, suasana tak setenang biasanya. Rani duduk termenung di ruang tamu. Matanya sembab. Di sampingnya, sang anak, Fikri (13 tahun), hanya diam memeluk lutut. Sudah seminggu ia tak mau ke sekolah. Suaranya hilang, senyumnya lenyap.

“Ayah… mereka dorong aku ke sumur…” bisik Fikri pelan suatu malam.

Deg. Jantung Rani nyaris berhenti. Anak sulungnya, siswa kelas dua SMP, ternyata menjadi korban perundungan brutal. Dilempar ke dalam sumur karena menolak minum tuak. Pelakunya? Teman satu sekolah.

*Kilas Balik, Luka yang Tak Tampak*

“Aku kira mereka hanya bercanda,” gumam Fikri saat mulai membuka cerita.

“Ada yang maksa aku minum. Aku tolak. Lalu mereka marah. Mereka dorong aku ke sumur belakang sekolah,” lanjutnya dengan suara patah.

Rani tak bisa berkata-kata. Ia teringat berita yang sempat ia baca seminggu lalu di beberapa media mainstream pada 26 Juni 2025 tentang perundungan anak di Bandung. Ia tak pernah menyangka, kini wajah dalam berita itu adalah anaknya sendiri.

“Apa guru tahu, Nak?” tanya Rani.

Fikri menggeleng. “Aku takut. Mereka ancam kalau aku cerita, aku bakal disebar videonya.”

Rani tahu, ini bukan sekadar kenakalan anak sekolah. Ini kejahatan. Tapi lebih dari itu, ini tanda bahwa ada yang salah dalam sistem yang membesarkan mereka.

*Dialog yang Membuka Luka*

Keesokan harinya, Rani memberanikan diri menghadap wali kelas.

“Bu, anak saya trauma. Dia hampir mati. Apakah sekolah tahu soal ini?”

Wali kelas terdiam sejenak. “Kami baru tahu dari laporan orang tua lainnya. Tapi… ini di luar pengawasan sekolah. Kami butuh waktu.”

Rani menggigit bibir. Waktu? Anak-anak itu nyaris membunuh anaknya. Apakah waktu cukup untuk menyembuhkan trauma?

“Maaf, Bu. Tapi kalau sistem sekolah hanya bisa menunggu, lalu siapa yang harus bertindak cepat?” tanya Rani lirih.

*Ada yang Salah dengan Arah*

Kasus Fikri bukan satu-satunya. Setiap tahun, angka perundungan anak terus naik. Bahkan kini, kekerasan disertai minuman keras, ancaman, hingga eksploitasi digital. Semua itu mengindikasikan bahwa sistem yang membesarkan anak-anak hari ini telah gagal. Bukan hanya gagal mendidik, tapi gagal menjaga moralitas dasar.

Regulasi ada, sanksi dibuat, tapi mengapa perundungan tetap terjadi? Mungkin karena kita lupa, bahwa pendidikan tak cukup hanya di ruang kelas. Arah kehidupan anak-anak ditentukan oleh nilai yang mendasari seluruh system, yakni keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Sistem sekuler kapitalistik telah menciptakan generasi yang kering dari nilai-nilai luhur. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan permisif, bebas tanpa batas, tapi miskin tanggung jawab. Di sinilah Islam hadir membawa solusi.
*Sang Ayah Bicara: Islam Mengajarkan Tanggung Jawab Sejak Dini*

Malam itu, ayah Fikri duduk bersama anaknya. Ia membacakan sebuah ayat dari Al-Qur’an.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain…” (QS. Al-Hujurat: 11)

“Fikri, dalam Islam, menyakiti orang lain itu dosa. Bahkan menertawakan saja bisa berdosa.”

Fikri mengangguk. Matanya mulai berbinar.

“Islam mengajarkan kita untuk jujur, lembut, dan tangguh. Kamu tahu, Nak? Ketika kamu menolak minuman haram itu, kamu sudah berani berdiri di jalan yang benar. Dan itu butuh keberanian.”

*Arah yang Harus Diubah*

Dalam Islam, pendidikan tidak dimulai dari sekolah, tapi dari rumah. Tanggung jawab mendidik ada pada keluarga, masyarakat, dan negara. Islam mewajibkan negara menyusun kurikulum yang membentuk kepribadian Islam, bukan hanya menumpuk pengetahuan.

Negara juga harus memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang bersih dari kekerasan, pornografi, dan narkoba. Sistem informasi harus terarah, bukan bebas nilai. Sanksi pun bukan semata menghukum, tapi juga mendidik. Islam tak memberi ruang bagi perundungan.

Anak-anak harus tahu bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban setelah baligh. Hadis Nabi Saw. menegaskan:
“Diangkat pena dari tiga golongan: orang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai ia sadar.” (HR. Abu Dawud)

*Harapan di Balik Luka*

Fikri kini mulai berani tersenyum. Ia menulis surat untuk teman-temannya yang dulu menjadi pelaku.

“Aku maafkan kalian. Tapi semoga kita bisa jadi orang yang lebih baik. Kita sama-sama salah arah, tapi kita bisa kembali ke jalan yang benar.”

Rani membaca surat itu sambil menitikkan air mata. Mungkin negeri ini masih punya harapan. Tapi harapan itu hanya akan tumbuh jika kita berani mengubah arah. Arah hidup yang dibangun bukan atas kebebasan tanpa batas, tapi atas dasar iman dan tanggung jawab.

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)