Berita  

Pendidikan Pancasila Jadi Pilar Penguatan Karakter Generasi Muda di Pangandaran

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pangandaran, Gumilar.

PANGANDARAN, LingkarJabar – Dalam era globalisasi yang penuh tantangan, penguatan pendidikan Pancasila menjadi langkah strategis untuk membentuk karakter generasi muda Indonesia yang tangguh dan berintegritas.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pangandaran, Gumilar menegaskan di tengah derasnya arus informasi global dan kemajuan teknologi yang pesat, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, Pancasila bukan sekadar simbol negara atau mata pelajaran di sekolah, melainkan pedoman hidup yang harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan Sosial menjadi panduan dalam membentuk pribadi yang berkarakter, beretika, dan cinta tanah air.

“Pemuda-pemudi yang saya banggakan! Di tengah gempuran informasi global, kita punya pondasi yang tak tergantikan, yaitu Pancasila,” ujar Gumilar.

Ia menekankan bahwa di tengah derasnya pengaruh budaya luar, Pancasila harus menjadi filter moral agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Lebih lanjut, Gumilar menjelaskan bahwa pendidikan Pancasila tidak cukup hanya diajarkan secara teoritis di ruang kelas. Pancasila harus diimplementasikan dalam tindakan nyata — mulai dari sikap saling menghormati, gotong royong, hingga menjaga persatuan dan toleransi di tengah keberagaman.

“Pendidikan Pancasila adalah kompas moral kita. Dengan memahaminya, para pelajar dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan menjaga harmoni sosial di lingkungan masing-masing,” jelasnya.

Menurutnya, generasi muda harus menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Mereka diharapkan mampu menghadirkan semangat gotong royong, menghargai perbedaan, serta mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.

Dalam konteks perkembangan teknologi dan informasi yang kian cepat, arus globalisasi membawa dua sisi mata uang: kemajuan dan tantangan. Di satu sisi, dunia digital membuka peluang besar untuk belajar dan berkembang; namun di sisi lain, dapat menjadi ancaman jika tidak disertai dengan pemahaman nilai-nilai kebangsaan.

Gumilar menegaskan bahwa Pancasila adalah benteng moral dan ideologis bangsa Indonesia dalam menghadapi pengaruh global yang bisa mengikis jati diri generasi muda. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya pelajar dan pemuda, untuk menjadikan Pancasila sebagai pegangan hidup yang nyata.

“Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, kita menjaga kerukunan di tanah air, melawan perpecahan, dan memastikan pembangunan Pangandaran berjalan dengan nilai-nilai luhur bangsa,” tuturnya.

Harapan besar disematkan pada generasi muda Pangandaran agar menjadi teladan dalam menghidupkan semangat Pancasila di berbagai lini kehidupan. Baik di sekolah, komunitas, maupun dalam kehidupan bermasyarakat, nilai-nilai Pancasila harus terus ditanamkan dan dihidupkan.

Menurut Gumilar, generasi muda merupakan agen perubahan dan penjaga moral bangsa. Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar berpikir dan bertindak, mereka akan mampu membangun masa depan yang berlandaskan kejujuran, keadilan, dan persatuan.

“Mari jadikan Pancasila denyut nadi semangat kita! Hidup Pancasila!” seru Gumilar penuh semangat menutup pesannya.

Pendidikan karakter berbasis Pancasila harus dimulai sejak usia dini. Sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang kuat. Pembiasaan sikap saling menghormati, disiplin, serta empati terhadap sesama adalah wujud nyata dari implementasi nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Pancasila bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga panduan masa depan bangsa. Ketika nilai-nilainya benar-benar tertanam di hati generasi muda, maka Indonesia akan tetap kokoh menghadapi arus perubahan global tanpa kehilangan jati dirinya.