Berita  

PC PMII Kota Banjar Dorong Evaluasi HTM pada Kegiatan Nobar Kemenag

 

BANJAR, LingkarJabar — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Banjar mendorong evaluasi terhadap kebijakan Harga Tiket Masuk (HTM) dalam kegiatan nonton bareng (nobar) yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjar, Minggu (10/5/2026).

Ketua PC PMII Kota Banjar, Joni Setiawan, mengatakan pihaknya mengapresiasi inisiatif Kemenag menghadirkan kegiatan yang mampu mempererat kebersamaan masyarakat.

Menurutnya, nobar dapat menjadi ruang silaturahmi lintas kalangan sekaligus memperkuat suasana harmonis di Kota Banjar.

“Kami melihat kegiatan nobar ini sebagai ruang positif untuk membangun kebersamaan dan mempererat hubungan sosial masyarakat,” ujar Jonimelalui pesan WhatsApp. Senin (11/5/2026).

Namun demikian, PC PMII menilai penerapan HTM dalam kegiatan yang melibatkan lembaga pemerintah perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut mereka, aspek keterjangkauan masyarakat dan prinsip pelayanan publik harus tetap menjadi perhatian utama.

“Kebijakan seperti ini tentu perlu dikaji agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat,” katanya.

Joni menambahkan, kegiatan publik yang digelar institusi negara idealnya dapat diakses secara luas oleh masyarakat tanpa hambatan tertentu, termasuk faktor biaya.

“Semangat pelayanan kepada masyarakat harus tetap menjadi prioritas dalam setiap kegiatan publik,” lanjutnya.

Selain itu, PC PMII Kota Banjar juga mendorong adanya transparansi terkait mekanisme pembiayaan kegiatan. Langkah tersebut dinilai penting guna menjaga kepercayaan publik dan menghindari kesalahpahaman.

“Transparansi anggaran penting agar masyarakat memahami bagaimana kegiatan itu dilaksanakan,” ucapnya.

PC PMII berharap polemik terkait HTM tidak mengurangi nilai positif dari kegiatan nobar yang telah berlangsung. Organisasi mahasiswa tersebut juga mengajak seluruh pihak menjadikan persoalan ini sebagai bahan evaluasi bersama demi pelaksanaan kegiatan publik yang lebih inklusif ke depan.

“Harapannya, kegiatan seperti ini tetap bisa menjadi sarana kebersamaan tanpa menimbulkan polemik di tengah masyarakat,” pungkas Joni.(Johan Wijaya)