PANGANDARAN, LingkarJabar – Peringatan Milangkala ke-13 Kabupaten Pangandaran menjadi momentum penting bagi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran menggencarkan program penanaman pohon kelapa di kawasan pesisir. Langkah ini dinilai strategis karena memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir sekaligus memperkuat daya tarik wisata berkelanjutan.
Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin, menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu menyiapkan kawasan khusus sebagai sentra penanaman kelapa terpadu. Selain berfungsi sebagai kawasan produksi kelapa, area ini juga dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata tematik yang ikonik dan bernilai jual tinggi.
“Kalau dikelola secara profesional, kawasan hamparan kelapa ini bisa jadi destinasi wisata baru yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pangandaran bisa menyaingi destinasi wisata kelapa di Thailand,” ujar Asep Noordin, Jumat (24/10/2025)
Menurut Asep, pohon kelapa memiliki nilai ekonomis tinggi karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Mulai dari janur, buah, sabut, hingga batangnya memiliki nilai jual dan dapat diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.
“Janur kelapa sangat dibutuhkan untuk industri kerajinan dan upacara adat. Buahnya bisa diolah untuk makanan dan minuman, sabutnya untuk serat industri, bahkan batangnya bisa dimanfaatkan untuk mebel,” jelasnya.
Ia menambahkan, bibit kelapa di Pangandaran sangat melimpah, sehingga pemerintah daerah tidak perlu mengeluarkan anggaran besar untuk memulai program ini. Menurutnya, yang dibutuhkan hanyalah komitmen serius dari Pemkab untuk melakukan penanaman dan peremajaan pohon kelapa secara konsisten.
“Bibit kelapa banyak tersedia di Pangandaran. Tinggal kemauan dari pemerintah untuk menjadikannya prioritas,” tegas Asep.
Asep mengungkapkan bahwa janur kelapa asal Pangandaran kini mulai dikirim ke Bali untuk kebutuhan upacara adat. Namun, ia menilai kualitasnya masih belum memenuhi standar pasar sehingga perlu ada pembinaan dari pemerintah daerah.
“Beberapa kali janur dari Pangandaran dikembalikan karena kualitasnya belum sesuai harapan. Ini menunjukkan perlunya pelatihan dan pendampingan bagi petani kelapa agar hasil produksi mereka bisa bersaing di pasar nasional,” tuturnya.
Selain peningkatan kualitas produk, Asep juga menekankan pentingnya membangun ekosistem industri kelapa yang melibatkan masyarakat lokal, koperasi, dan pelaku usaha. Dengan begitu, rantai pasok dari hulu hingga hilir bisa berjalan optimal dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga.
Untuk memperkuat keberlanjutan program, DPRD Kabupaten Pangandaran meminta Pemkab agar segera menyusun roadmap penanaman dan pengembangan pohon kelapa secara terencana. Dokumen ini penting sebagai panduan dalam menentukan arah kebijakan, kawasan prioritas, serta model pengelolaan yang melibatkan berbagai pihak.
“Program penanaman kelapa jangan hanya bergantung pada bantuan bibit dari CSR perusahaan. Harus ada peta jalan (roadmap) yang jelas agar program ini berjalan jangka panjang dan menjadi prioritas daerah,” ujar Asep.
Ia menegaskan bahwa pohon kelapa bukan sekadar tanaman produktif, tetapi juga dapat menjadi ikon baru wisata Pangandaran. Hamparan kelapa di pesisir dapat dikemas menjadi wisata agro-ekowisata yang unik, ramah lingkungan, dan mendukung misi pemerintah dalam mengembangkan pariwisata hijau (green tourism).
Pengembangan kawasan kelapa di Pangandaran dinilai sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui sektor pariwisata dan pertanian terpadu. Melalui sinergi dua sektor tersebut, potensi daerah dapat dimaksimalkan tanpa merusak lingkungan.
Program ini juga diyakini dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat branding pariwisata Pangandaran sebagai daerah pesisir yang asri dan produktif.
“Bayangkan jika di sepanjang pesisir Pangandaran tumbuh ribuan pohon kelapa, wisatawan bisa menikmati pemandangan tropis yang eksotis sambil menikmati produk olahan kelapa lokal. Ini peluang besar yang harus segera digarap,” pungkas Asep.






