Anggota DPRD Pangandaran Ngisom Minta Media Hormati Lembaga Keagamaan

Anggota DPRD Pangandaran Ngisom Minta Media Hormati Lembaga Keagamaan. Foto: Ist/LJ

PANGANDARAN, LingkarJabar  – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Pangandaran, Kyai Ngisom, S.Pd.I menegaskan bahwa pesantren merupakan benteng peradaban bangsa yang tidak boleh diganggu, direndahkan, apalagi disudutkan. Ia mengingatkan bahwa kedudukan ulama sangat mulia sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadist “Al-ulama waratsatul anbiya,” yang berarti ulama adalah pewaris para nabi. Karena itu, kata dia, sudah sepatutnya semua pihak menghormati para ulama dan kiai, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim.

Pernyataan tersebut disampaikan Kyai Ngisom menyusul tayangan salah satu program di stasiun televisi Trans7 yang dinilai kurang pantas dan menyinggung salah satu pondok pesantren besar di Indonesia. Konten tersebut menuai reaksi luas, termasuk dari masyarakat di Kabupaten Pangandaran.

Lebih lanjut, Kyai Ngisom menekankan bahwa pesantren memiliki peran historis dan moral yang sangat besar dalam pembentukan karakter bangsa. Menurutnya, lembaga pendidikan Islam tradisional itu bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat pembentukan akhlak dan peradaban manusia Indonesia.

“Pesantren sudah lebih dari 300 tahun mengabdikan diri bagi masyarakat Indonesia. Dari pesantren lahir kemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi jangan sekali-kali mengusik sistem peradaban yang dibangun oleh pesantren,” ujarnya tegas.

Ia juga mengingatkan bahwa pesantren dan para santri selama ini dikenal mandiri dan tidak bergantung pada anggaran negara. Dengan kemandiriannya, pesantren tetap berperan besar dalam mencerdaskan bangsa serta menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

“Pondok dan santri itu mandiri tanpa dibiayai negara, kecuali bantuan kecil saja. Selama ratusan tahun mereka mengabdi untuk Indonesia tanpa meminta imbalan apa pun. Maka Indonesia harus berterima kasih kepada pondok dan santri,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kyai Ngisom meminta agar peristiwa yang melibatkan pihak televisi tersebut menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, khususnya media massa. Ia menilai media harus lebih berhati-hati dalam menayangkan konten yang berkaitan dengan lembaga keagamaan, sebab pesantren memiliki posisi istimewa dalam sejarah dan kebudayaan Indonesia.

“Jangan mengusik pondok pesantren. Ini adalah laboratorium keadaban publik. Jika pesantren tidak mengajarkan keadaban, maka yang muncul di masyarakat adalah kekurangajaran. Saya harap ini yang pertama dan terakhir. Mari kita hargai jasa pondok dan santri, karena dari merekalah lahir keadaban publik Indonesia,” pungkasnya.

Di akhir pernyataannya, Kyai Ngisom menegaskan bahwa PDI Perjuangan Kabupaten Pangandaran senantiasa menjaga hubungan baik dengan pesantren, para kiai, alim ulama, dan santri.

“Kami meyakini, berkat doa para ulama dan santri, Kabupaten Pangandaran senantiasa aman, tenteram, dan diridhai Allah SWT. Aamiin,” tutupnya.