Opini  

Investasi yang Mengalir, Pekerjaan yang Menyempit: Kisah dari Tanah Pasundan

Ummu Fahhala, S. Pd. (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

LingkarJabar – Senja merayap pelan di langit Bandung. Warna jingga membias di antara gedung-gedung tinggi yang berdiri angkuh, seolah menjadi saksi bisu tentang sebuah ironi besar. Di trotoar dekat alun-alun, Andi duduk termenung. Di tangannya, sebuah map berisi lembaran lamaran kerja yang sudah lusuh karena terlalu sering dibawa ke sana kemari.

“Pak, jadi… Jawa Barat ini katanya provinsi dengan investasi paling tinggi se-Indonesia, ya?” tanya Andi kepada seorang bapak yang duduk di sebelahnya, sambil menunggu bus sore itu.

Bapak itu tersenyum tipis. “Iya, Nak. Data terakhir dari CNBC Indonesia, investasi kita — baik dari modal asing maupun dalam negeri — memang nomor satu. Pabrik-pabrik besar berdiri, gedung-gedung baru menjulang.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Andi. “Tapi tahu tidak? Ironisnya, kita juga punya tingkat pengangguran paling tinggi di negeri ini.”

Andi mengerutkan kening. “Kok bisa begitu, Pak? Kalau investasi banyak, bukannya harusnya lapangan kerja juga banyak?”

Bapak itu menarik napas panjang. “Itu yang disebut paradoks. Banyak investasi yang masuk sekarang berbasis teknologi tinggi, otomatisasi, atau padat modal. Mesin-mesin mengambil alih peran manusia. Pekerjaan yang tersisa kadang butuh keterampilan khusus, yang belum semua orang punya.”

Andi terdiam. Kata-kata itu seperti menamparnya. Ia teringat berbulan-bulan menganggur meski sudah melamar ke puluhan perusahaan. Banyak lowongan yang ia temui mensyaratkan keahlian teknis yang tak dimilikinya.

Di tempat lain, di sebuah balai pertemuan desa, diskusi publik berlangsung. Seorang akademisi, Dr. Faisal, berbicara di depan warga.

“Investasi yang sehat itu bukan hanya menambah aset pemilik modal. Ia harus membuka lapangan kerja yang luas. Kalau hanya membangun pabrik canggih tapi menyerap sedikit tenaga kerja, dampaknya untuk pengangguran akan minim.”
Warga mengangguk-angguk. Beberapa terlihat resah, terutama para orang tua yang anaknya belum juga mendapat pekerjaan.

Seorang ibu bertanya, “Lalu… apa yang bisa kita lakukan, Pak? Apa harus menolak investasi?”

Dr. Faisal tersenyum lembut. “Bukan menolak. Investasi tetap penting, tapi harus diarahkan agar berpihak pada rakyat. Kita butuh pelatihan keterampilan, pemberdayaan usaha lokal, dan kebijakan yang memastikan tenaga kerja daerah mendapat prioritas.”

Malam itu, di rumah sederhana, Andi membuka mushaf. Matanya tertumbuk pada ayat: “…dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188).

Ia merenung, bagaimana Islam mengajarkan keadilan ekonomi. Rasulullah saw. mencontohkan, pemimpin harus memastikan warganya memiliki pekerjaan layak. Di masa Khalifah Umar bin Khattab, baitul mal menjadi sumber modal bagi rakyat miskin agar mereka bisa mandiri.

Andi teringat cerita itu, lalu berkata pada ibunya, “Bu, kalau saja kebijakan bisa berjalan seperti itu — bukan hanya memberi kemudahan untuk investor, tapi juga membuka ruang untuk rakyat kecil — mungkin hidup kita akan lebih baik.”

Ibunya mengangguk, menepuk bahu Andi. “Nak, kita tak bisa mengubah semua sekaligus. Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri. Belajar, menambah keterampilan, dan tetap berusaha. Siapa tahu, kita yang akan membuka lapangan kerja nanti.”

Angin malam berhembus lembut. Di luar sana, lampu-lampu pabrik menyala terang. Mungkin di balik temboknya hanya segelintir orang yang bekerja. Namun, di hati Andi, mulai tumbuh harapan: bahwa masa depan bisa berbeda, jika investasi bukan hanya angka di laporan, tetapi juga pintu rezeki bagi rakyat yang menunggu.

Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.

(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)