Berita  

“Tuntutan Koreksi Indonesia”: HMI Banjar Suarakan Perubahan Lewat 7 Poin Ini

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Banjar menggelar aksi damai bertajuk “Tuntutan Koreksi Indonesia” di Aula Gunung Sangkur Setda Kota Banjar, Kamis 04 September 2025. Foto: Johan Wijaya/LJ

BANJAR, LingkarJabar – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Banjar menggelar aksi damai bertajuk “Tuntutan Koreksi Indonesia” di Aula Gunung Sangkur Setda Kota Banjar, Kamis 04 September 2025. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyuarakan tujuh tuntutan penting atau Saptasuara yang mereka sebut sebagai suara rakyat, mulai dari reformasi partai politik, perbaikan institusi publik, hingga keadilan dalam sistem perpajakan.

Ketua HMI Cabang Banjar, Rio, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari keprihatinan atas kondisi sosial, politik, dan ekonomi nasional yang dinilai kian menjauh dari cita-cita reformasi.

“Kami menyebutnya Saptasuara, tujuh suara rakyat yang mendesak untuk segera ditindaklanjuti oleh para pemangku kebijakan,” tegasnya.

Tujuh Tuntutan HMI Kota Banjar :

1. Transformasi Partai Politik – Membenahi sistem partai agar kembali berfungsi sebagai sarana edukasi politik rakyat, bukan sekadar alat perebutan kekuasaan.

2.Perbaikan Institusi Publik – Menuntut reformasi total terhadap lembaga negara agar lebih transparan, bersih, dan akuntabel.

3. Evaluasi dan Pemberhentian Wakil Rakyat Bermasalah – Mendesak adanya mekanisme pemecatan bagi anggota legislatif yang terlibat korupsi atau tidak mencerminkan kepentingan rakyat.

4. Penghematan Anggaran Pejabat – Mengalihkan dana fasilitas pejabat ke sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

5. Pengesahan RUU Pro-Rakyat – Mendesak DPR segera mengesahkan RUU Perlindungan Petani dan Pekerja Rumah Tangga.

6. Revisi UU Ketenagakerjaan – Menuntut revisi UU No. 13 Tahun 2003 agar lebih berpihak pada pekerja muda dan sektor informal.

7. Reformasi Pajak Berkeadilan – Menolak sistem pajak yang membebani UMKM dan pekerja kecil, sementara korporasi besar mendapat keringanan.

Menurut Rio, tuntutan tersebut bukan hanya kritik, tetapi juga panggilan nurani untuk mengembalikan Indonesia pada cita-cita reformasi.

“Kami menginginkan Indonesia yang berpihak pada rakyat kecil, bersih dari korupsi, dan adil dalam kebijakan. Pemerintah harus membuka telinga terhadap suara akar rumput, bukan hanya elite,” ujarnya.

Aksi damai ini berlangsung tertib dan penuh kedamaian dengan pengamanan dari aparat kepolisian. Dukungan juga mengalir dari kalangan mahasiswa maupun elemen masyarakat sipil yang hadir dalam kegiatan tersebut.

“Kami hadir bukan hanya untuk menyuarakan aspirasi, tapi juga untuk menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tetap relevan dan bertanggung jawab. Kami tidak akan berhenti sampai ada langkah konkret dari pemerintah. Ini bukan sekadar aksi, ini panggilan nurani,” pungkas Rio. (Johan Wijaya)