Berita  

Sosialisasi Empat Pilar di Lapas Banjar, Agun Gunandjar Soroti Pentingnya Pendidikan Kebangsaan

BANJAR, LingkarJabar – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dari Komisi XIII, Agun Gunandjar Sudarsa, menggelar kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan kepada ratusan warga binaan di Lapas Kelas IIB Banjar, Senin (2/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Agun menyinggung fenomena pernyataan seorang diaspora Indonesia yang tengah viral di media sosial. Ia menilai pernyataan tersebut menjadi refleksi penting terkait pendidikan kebangsaan di lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Salah satu contoh yang viral hari ini tentang diaspora yang dengan mudah menyampaikan pernyataan bernada pesimistis. Ini menjadi refleksi bersama,” ujar Agun di hadapan warga binaan.

Menurutnya, pembentukan karakter kebangsaan tidak hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga keluarga dan institusi pendidikan. Ia mempertanyakan sejauh mana nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan semangat perjuangan telah ditanamkan sejak dini.

“Apa yang dilakukan orang tua? Apa yang dilakukan keluarga dan sekolah? Kalau nilai-nilai kebangsaan, nilai kemanusiaan, dan semangat perjuangan sudah tertanam kuat, saya yakin tidak mudah seseorang bersikap demikian,” katanya.

Pentingnya Internalisasi Nilai Empat Pilar

Agun menjelaskan bahwa sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan—yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—merupakan bagian dari tugas konstitusional seluruh anggota MPR RI.

Ia menyebut, program tersebut telah dianggarkan dan menjadi kewajiban setiap anggota MPR untuk dilaksanakan di berbagai daerah dan lapisan masyarakat, termasuk di lembaga pemasyarakatan.

“Sosialisasi ini penting untuk mengingatkan bahwa setiap warga negara memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional. Kita tidak bisa hanya bebas berpendapat tanpa tanggung jawab,” ujarnya.

Agun juga menekankan bahwa setiap individu, termasuk warga binaan, tetap memiliki harapan dan kesempatan memperbaiki diri. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah memberikan stigma atau merasa lebih baik dari orang lain.

“Belum tentu yang berada di luar sana lebih baik. Semua manusia punya peluang memperbaiki diri. Yang penting pikiran, ucapan, dan perbuatan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Ajakan Taat Aturan dan Bangun Optimisme
Dalam sosialisasi tersebut, Agun mengajak seluruh peserta untuk menaati aturan yang berlaku serta menjunjung nilai demokrasi dan hukum dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai, membangun optimisme kebangsaan tidak cukup melalui slogan, tetapi melalui tindakan nyata dan kepatuhan terhadap norma serta peraturan perundang-undangan.

“Penguatan nasionalisme tidak cukup melalui ceramah atau slogan. Yang dibutuhkan bangsa ini adalah keteladanan para pemimpin, kebijakan yang adil, serta ruang dialog yang sehat agar masyarakat merasa dilibatkan dan dihargai,” pungkas Agun

Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif dan diakhiri dengan dialog bersama warga binaan. Agun menyatakan akan terus melaksanakan kegiatan serupa di berbagai wilayah sebagai bagian dari penguatan wawasan kebangsaan, di akhir acara pemberian sebuah cinderamata kepada Agun Gunadjar, sebuah lukisan hasil karya dan kreatifitas warga binaan. (Joe)