Opini  

Pukul Enam Tiga Puluh: Di Balik Seragam, Ada Asa yang Belum Tuntas

Ummu Fahhala, S.Pd. (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

LingkarJabar – Langit masih gelap ketika suara alarm membangunkan Adit. Bocah 15 tahun itu mengusap matanya dan melirik jam dinding—pukul 04.45. Ia segera bergegas. Tak ada waktu untuk bermalas-malasan. Hari ini hari pertama MPLS di SMA barunya. Jam masuk sudah berubah. Bukan pukul 07.00 seperti dulu, tapi pukul 06.30. Harus siap lebih cepat.

Ibunya, Bu Rani, menyodorkan segelas susu hangat.

“Kamu yakin kuat, Dit? Ini masih gelap. Ibu khawatir kamu kecapekan.”

Adit tersenyum, berusaha meyakinkan ibunya.

“Nggak apa-apa, Bu. Katanya nanti ada TNI dan polisi juga. Seru, kan?”

Bu Rani diam. Ia menatap wajah anaknya yang penuh semangat, namun hatinya diliputi tanya. Apakah semangat itu akan bertahan lama? Ataukah ini hanya gemuruh awal yang akan meredup oleh kenyataan?

Seremoni dan Senyum Tegap

Halaman sekolah sudah ramai. Petugas TNI dan Polri berdiri tegap. Bendera berkibar. Barisan siswa rapi. Lagu kebangsaan menggema, menggetarkan dada. Para guru tersenyum bangga.

Pak Didi, kepala sekolah, mengambil mikrofon.

“Anak-anakku, ini awal dari masa depan kalian. MPLS bukan hanya pengenalan sekolah. Ini latihan untuk jadi pemimpin masa depan. TNI dan Polri hadir di sini untuk menguatkan jiwa kebangsaan kalian!”

Tepuk tangan menggema. Semua terlihat sempurna. Tapi di tengah barisan, Adit mulai merasa lututnya lemas. Ia belum sarapan. Perjalanan jauh dan beban tas membuat punggungnya sakit. Tapi ia tahan. Ia ingin jadi kuat. Ia ingin jadi “anak bangsa”.

Suara Lain dari Balik Gerbang

Di luar pagar sekolah, Pak Ujang, seorang relawan pendidikan menggeleng pelan.

“Saya paham maksudnya baik. Disiplin itu penting. Tapi jangan lupakan akarnya. Karakter anak bukan dibangun dari baris-berbaris, tapi dari arah pikir dan hati yang lurus.”

Seorang wartawan lokal mewawancarainya.

“Apa maksud Bapak?”

“Kita butuh sistem pendidikan yang mendidik manusia, bukan hanya memoles perilaku. Bela negara dan kedisiplinan tidak cukup jika mereka tak paham makna hidupnya. Anak-anak ini butuh lebih dari sekadar seremoni.”

Bila Sistem Menjawab Masalah dengan Masalah Baru

Hari-hari MPLS terus berjalan. Jam masuk tetap pukul 06.30. Banyak siswa kelelahan. Beberapa jatuh sakit. Ada yang tidak sempat sarapan. Jarak rumah yang jauh jadi beban tersendiri.

Adit, yang awalnya semangat, mulai murung. Ia tak paham mengapa sekolahnya terasa seperti tempat uji ketahanan fisik, bukan tempat mencari ilmu.

“Bu… kenapa sekolah harus sesusah ini?” tanyanya lirih suatu malam.

Bu Rani terdiam. Ia pun tak punya jawaban.

Kita sedang menghadapi wajah sistem pendidikan yang menyelesaikan masalah dengan cara yang salah. Ketika karakter dianggap bisa dibentuk dalam tiga hari MPLS, saat itulah kita mulai kehilangan arah.

Pelajaran dari Sejarah Islam

Di masa Rasulullah Saw. pendidikan bukan sekadar soal perintah dan larangan. Beliau membentuk kepribadian dari dalam, yakni dengan menanamkan keimanan, akhlak, dan pemikiran yang benar.

Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Di zaman Khulafaur Rasyidin, pendidikan menjadi pilar peradaban. Anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, memahami ilmu, dan menerapkannya dalam kehidupan. Bukan sekadar tertib baris, tapi cerdas pikir dan bersih hati.

Umar bin Khattab bahkan memerintahkan para pemimpin wilayah untuk memprioritaskan pendidikan rakyat, bukan hanya soal hukum dan administrasi.

Mimpi Adit, Mimpi Kita Semua

Adit akhirnya menyelesaikan MPLS. Tapi bukan itu yang mengubah dirinya. Yang membuatnya tumbuh adalah percakapan dengan guru agama di hari terakhir.

“Adit,” kata ustaz muda itu, “pemimpin sejati bukan yang hanya disiplin waktu. Tapi yang tahu kenapa dia hidup dan untuk siapa dia berjuang.”

Mata Adit berbinar. Ia merasa menemukan arah.

MPLS boleh selesai dalam tiga hari. Tapi membentuk manusia butuh waktu, visi, dan sistem yang benar. Bukan sekadar melibatkan aparat atau memajukan jam masuk.

Penutup

Pendidikan harus menjawab kebutuhan zaman tanpa melupakan tujuan utama, yaitu membentuk manusia yang berpikir, beriman, dan berkontribusi. Islam telah membuktikan bahwa generasi emas tidak lahir dari seremoni, tapi dari sistem yang menyentuh akal dan hati.

Mari jadikan MPLS bukan hanya agenda tahunan, tapi langkah awal menuju sistem pendidikan yang sejati, yang membangun manusia utuh, bukan hanya tubuh yang terlatih, tetapi jiwa yang tercerahkan.

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

polestoto

lahirtoto

warung403

warung403 login

situs warung403

lahirtoto

LAHIRTOTO

LAHIRTOTO LOGIN

lahirtoto

imgstock

Hosting Gambar

Mengapa Kasino Online Semakin Sering Muncul dalam Percakapan di Media Sosial?

Kasino Digital dan Perubahan Cara Masyarakat Memahami Risiko Permainan

Menelusuri Pengaruh Konten Video Pendek terhadap Popularitas Kasino Online

Di Balik Tampilan Kasino Online, Ada Strategi Desain yang Memengaruhi Pengguna

Kasino Berbasis Internet dan Tantangan Membedakan Informasi dari Promosi

Bagaimana Kasino Digital Memanfaatkan Teknologi untuk Menjaga Aktivitas Pengguna?

Fenomena Kasino Online Memunculkan Perdebatan tentang Batas Hiburan Digital

Mengenali Pengaruh Notifikasi terhadap Kebiasaan Pengguna Kasino Online

Kasino Online dan Perubahan Persepsi Masyarakat terhadap Peluang Kemenangan

Ketika Kasino Digital Menjadi Topik Perbincangan dalam Literasi Media

Mengapa Informasi tentang Kasino Online Perlu Dilihat dari Berbagai Perspektif?

Perkembangan Kasino Berbasis Internet dan Tantangan Pengawasan Konten Digital

Kasino Online dalam Sorotan Psikologi Pengambilan Keputusan Pengguna

Memahami Bagaimana Promosi Kasino Digital Membentuk Harapan Pengguna Baru

Di Tengah Arus Informasi Digital, Kasino Online Menghadirkan Tantangan Baru

Menelusuri Hubungan Kasino Online dengan Perubahan Pola Konsumsi Konten

Kasino Digital dan Pentingnya Memahami Perbedaan Hiburan dengan Risiko Keuangan

Bagaimana Pengalaman Pengguna Membentuk Pandangan terhadap Kasino Berbasis Internet?

Fenomena Kasino Online Mengingatkan Pentingnya Sikap Kritis terhadap Konten Viral

Kasino Digital dalam Perbincangan tentang Tanggung Jawab Platform Internet

Kasino Online dan Fenomena Normalisasi Taruhan dalam Kehidupan Digital

Mengapa Transparansi Biaya Penting dalam Layanan Kasino Berbasis Internet?

Menelusuri Pengaruh Komunitas Virtual terhadap Pandangan tentang Kasino Online

Ketika Kasino Digital Menggunakan Sistem Hadiah, Bagaimana Pengaruhnya pada Pengguna?

Kasino Online dan Tantangan Memahami Informasi di Tengah Banjir Konten Digital

Bagaimana Kebiasaan Bermain pada Malam Hari Berkaitan dengan Risiko Kasino Online?

Kasino Digital dalam Sorotan Perlindungan Pengguna dari Praktik Manipulatif

Mengenali Perbedaan antara Keberuntungan Sesaat dan Peluang dalam Kasino Online

Kasino Online dan Peran Edukasi Keluarga dalam Membangun Kesadaran Risiko

Mengapa Kemudahan Registrasi Kasino Digital Perlu Diimbangi Perlindungan Identitas?