Opini  

Jalanan Bandung yang Sesak, Harapan yang Tak Boleh Macet

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd. (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

LingkarJabar – Rani berdiri di pinggir Jalan Sukajadi, memegang erat tas kerjanya. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi, tetapi jalan di depannya sudah tak bergerak. Klakson bersahutan. Udara tercemar asap kendaraan. Ini bukan pagi yang baru bagi Rani, ini adalah rutinitas setiap hari.

Rani bukan satu-satunya. Ribuan warga Bandung menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berpindah dari rumah ke tempat kerja. Kota yang dulunya dikenal sejuk dan ramah, kini berubah jadi kota paling macet di Indonesia. Fakta itu tercatat dalam laporan tahunan TomTom Traffic Index 2025.

Mengapa Bandung Semakin Padat?

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar, menjelaskan bahwa kemacetan ini bukan tanpa sebab. Bandung awalnya dibangun bukan sebagai kota besar. “Kapasitasnya dulu maksimal untuk 800.000 orang. Sekarang, jumlah penduduk dan kendaraan meningkat jauh dari itu,” ujarnya.

Masalahnya tidak hanya jumlah kendaraan yang naik. Banyak warga luar kota datang ke Bandung untuk mencari kerja dan hidup yang lebih layak. Mereka membawa kendaraan pribadi karena transportasi umum belum bisa diandalkan sepenuhnya. Akhirnya, semua bertumpuk di satu kota yang tak pernah disiapkan untuk sebesar ini.

Bandung Bukan Satu-satunya Masalah

Kemacetan di Bandung mencerminkan sesuatu yang lebih dalam. Ini bukan sekadar soal jalan sempit atau bus yang kurang. Ini soal bagaimana pembangunan dan ekonomi tumbuh hanya di beberapa kota besar. Daerah lain tertinggal. Warga pun terpaksa pindah ke kota seperti Bandung untuk mencari nafkah.

Kondisi ini membuat kota besar semakin padat. Pemerintah tentu tidak tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan: pelebaran jalan, pembangunan flyover, hingga peningkatan layanan angkutan umum. Tapi masalah tak kunjung selesai. Jalan baru cepat penuh, kendaraan pribadi terus bertambah.

Saatnya Belajar dari Sejarah: Pemerataan adalah Kunci

Dulu, Rasulullah Saw. membangun Madinah tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, tapi juga pusat pemerataan. Beliau mengutus sahabat ke berbagai wilayah untuk membina masyarakat dan membangun ekonomi di daerah. Negara hadir di mana-mana, bukan hanya di satu kota.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab juga menata wilayah kekuasaan dengan adil. Kota-kota seperti Basrah dan Kufah tumbuh menjadi pusat baru. Masyarakat tidak perlu hijrah ke ibu kota hanya untuk hidup layak. Negara menciptakan keadilan dalam pembangunan.

Islam Mengajarkan Keadilan Wilayah

Al-Qur’an mengingatkan, “Allah Swt. menjadikan bumi untuk kalian sebagai tempat hidup yang luas.” (QS. Al-Baqarah: 22). Ajaran Islam menuntun agar pembangunan tidak hanya fokus di satu tempat. Ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik harus hadir di setiap wilayah.

Dalam sistem Islam, negara memastikan semua wilayah mendapat perhatian yang sama. Kekayaan alam tidak ditumpuk di satu kota. Fasilitas publik tersedia merata. Dengan begitu, warga tidak harus pindah ke kota besar untuk bertahan hidup. Ini adalah solusi jangka panjang untuk kemacetan dan kepadatan.

Bandung Bisa Lebih Baik

Rani dan jutaan warga Bandung tidak berharap banyak. Mereka hanya ingin perjalanan yang lancar, udara yang bersih, dan waktu bersama keluarga yang cukup. Pemerintah telah berusaha. Tapi kita semua tahu, solusi besar butuh pendekatan yang menyeluruh.

Kita bisa belajar dari masa lalu. Sistem yang adil dan merata adalah kunci. Ketika pembangunan tidak lagi terpusat, kota seperti Bandung bisa kembali bernapas lega. Jalan tidak lagi penuh, dan harapan tidak lagi macet.

Karena Bandung bukan kota gagal. Ia hanya butuh ruang untuk bernapas dan sistem yang memihak rakyat di setiap jengkal tanah negeri ini.

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)