LingkarJabar – Suara sepatu berderap pelan di halaman Markas Besar TNI AL, Rabu pagi itu. Langit Jakarta Timur bersih, seolah ikut menyambut hari yang tak biasa. Di antara barisan tamu yang hadir, seorang anak muda bernama Rafi berdiri diam di samping ayahnya, seorang nelayan dari Pantai Pangandaran.
Ini kali pertama Rafi menginjakkan kaki di markas tentara, dan bukan untuk melihat parade atau senjata, melainkan untuk menyaksikan perjanjian penting, yakni kerjasama antara Pemprov Jawa Barat dan TNI Angkatan Laut untuk menjaga laut dan sungai.
“Ayah, kenapa kita diundang ke sini?” bisik Rafi pelan.
Sang ayah, Pak Ujang, tersenyum. “Karena laut bukan hanya milik nelayan. Hari ini, kita semua diingatkan bahwa laut adalah titipan yang harus dijaga bersama.”
Tak lama kemudian, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan Kepala Staf Angkatan Laut menandatangani lembar perjanjian. Tepuk tangan menggema, namun Rafi merasa ada yang lebih penting dari sekadar dokumen.
Ayah Rafi teringat, bahwa ia pernah membaca di salah satu media mainstream pada 12 Maret 2024, sebuah pernyataan dari Prof. Dr. Yayan Hikmat, seorang ahli kelautan dari Institut Teknologi Bandung, yang menyebutkan bahwa 80% kerusakan ekosistem laut disebabkan oleh limbah domestik dan aktivitas ekonomi yang tidak terkontrol.
Di sela acara, Ayah Rafi sempat berbincang dengan seorang perwira muda AL. “Kami mendapat informasi bahwa delapan puluh persen kerusakan laut datang dari aktivitas manusia di darat. Jika tidak dikawal dari hulu sampai hilir, perjanjian ini hanya akan jadi berita sekali putar,” ujarnya.
Perwira itu mengangguk. “Kami di TNI AL siap mengawasi, Pak. Tapi kami juga butuh masyarakat bergerak. Edukasi penting. Kami hanya tangan, rakyatlah jantungnya.”
Setelah acara, Rafi diajak mengunjungi dermaga kapal patroli milik AL. Di sana ia bertemu Sersan Sari, seorang penyuluh lingkungan dari AL.
“Kamu suka laut, Rafi?” tanya Sersan Sari.
“Suka. Tapi laut di tempat saya sekarang keruh dan penuh sampah,” jawabnya.
Sersan Sari tersenyum lirih. “Laut tak akan bersih hanya karena satu perjanjian. Tapi kalau satu anak di setiap kampung seperti kamu peduli, itu bisa mengubah banyak hal. Kamu tahu dalam Islam, laut itu karunia Tuhan. Ia bukan untuk dirusak, tapi dijaga. Rasulullah Saw. dulu bahkan melarang tangkapan ikan saat musim kawin. Itu ajaran yang luar biasa.”
Kisah hari itu tak berhenti di Cilangkap. Di hari-hari selanjutnya, kampanye edukasi digencarkan. Dari pesantren hingga sekolah, anak-anak mulai diajarkan bahwa laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi amanah ilahi yang harus dirawat. Bahkan, di pesantren Pak Kiai Halim, muncul kurikulum khusus tentang fikih lingkungan.
“Kita ini khalifah di bumi,” kata Kiai Halim dalam pengajian sore. “Kalau laut rusak karena keserakahan, itu bukan hanya soal ekologi, tapi soal iman. Laut bukan proyek, tapi sistem kehidupan,” katanya. “Dan sistem itu harus kita ubah bersama, bukan hanya dengan regulasi, tapi dengan nilai.”
Kolaborasi antara pemerintah, militer, akademisi, dan rakyat memang bukan hal baru. Tapi saat itu dilakukan dengan semangat amanah dan kesadaran spiritual, ia menjadi tonggak perubahan sejati.
Kini, Rafi rajin mengajak teman-temannya membersihkan pantai setiap akhir pekan. Mereka menamakan komunitasnya “Sahabat Biru.” Ia yakin, janji yang diucap di hadapan langit Cilangkap itu, bukan sekadar seremoni, tapi awal dari masa depan yang lebih bersih dan lebih biru.
Dan laut pun seolah membisikkan harapan baru: “Jagalah aku, maka aku akan menjaga kalian.”
Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)






