BANJAR , LingkarJabar – Di tengah semangat mengejar masa depan, banyak lulusan sekolah menengah atas (SLTA) di Kota Banjar justru dihadapkan pada pilihan sulit untuk melanjutkan pendidikan atau langsung bekerja demi kebutuhan ekonomi.
Fenomena ini bukan sekadar cerita per individu. Data tahun 2025 menunjukkan, dari sekitar 3.900 lulusan SLTA, hanya sekitar 5 hingga 13 persen yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Selebihnya memilih masuk dunia kerja lebih cepat.
Gungun Gunawan Abdul Jawad atau Gus Jawad menyebut kondisi ini sebagai sinyal serius yang perlu mendapat perhatian bersama.
“Banyak anak-anak kita setelah lulus ingin langsung bekerja. Ini bukan hanya soal pilihan, tapi sudah menjadi fenomena yang sistemik,” ujarnya dalam Konferensi Cabang (Konpercab) Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, sejak dini sistem pendidikan belum sepenuhnya membentuk orientasi jangka panjang. Akibatnya, banyak lulusan lebih memilih penghasilan cepat dibanding investasi pendidikan.
Di sisi lain, Wali Kota Banjar, Sudarsono melihat persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial ekonomi masyarakat. Ia menilai, bagi sebagian keluarga, melanjutkan kuliah masih dianggap sebagai beban.
“Terutama bagi warga yang tidak mampu, ini menjadi persoalan. Karena itu akan kita upayakan bantuan agar mereka tetap punya kesempatan melanjutkan pendidikan,” ujarnya, seusai menghadiri Muscab PKB 2026.
Namun, Sudarsono juga mengingatkan pentingnya kejelasan data sebagai dasar kebijakan. Hingga kini, ia mengaku belum menerima laporan yang benar-benar valid terkait angka lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Saya khawatir datanya valid atau tidak. Ini harus jelas dulu supaya langkah kita tepat,” katanya.
Kondisi ini menggambarkan dilema nyata yang dihadapi generasi muda Banjar: antara tuntutan ekonomi jangka pendek dan kebutuhan meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan tinggi.
Di balik angka-angka statistik, tersimpan harapan yang tertunda tentang mimpi yang harus dikompromikan, dan masa depan yang dipertaruhkan. (Johan Wijaya)






