Berita  

Juru Kunci Nyai Iming Ungkap Jejak Dakwah Kiai Haji Hasan Husen di Petilasan Pasir Cabe

Juru Kunci Nyai Iming Ungkap Jejak Dakwah Kiai Haji Hasan Husen di Petilasan Pasir Cabe. Foto: Johan Wijaya/LJ

BANJAR, LingkarJabar – Petilasan Kiai Haji Hasan Husen yang berada di kawasan Pasir Cabe, tepatnya di Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, menyimpan jejak penting sejarah penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Jejak dakwah tokoh agama itu hingga kini masih dijaga melalui tradisi lisan dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Nyai Iming, juru kunci petilasan, yang telah merawat dan menjaga kawasan itu sejak awal tahun 2000-an. Ia menjelaskan, petilasan tersebut bukanlah makam, melainkan tempat singgah atau nipis dalam istilah Sunda, yang diyakini menjadi lokasi Kiai Haji Hasan Husen beristirahat sekaligus melakukan siar agama Islam dalam perjalanan dakwahnya.

“Ini tempat singgah, tempat siar agama. Bukan makam,” ujar Nyai Iming saat ditemui di lokasi petilasan, Sabtu (17/1/2026).

Menurutnya, nama Pasir Cabe sejatinya bukan nama asli kawasan tersebut. Nama itu digunakan pada masa lampau sebagai bentuk penyamaran untuk melindungi lokasi dan menjaga kesakralannya. Hingga kini, sejarah penamaan asli tempat tersebut belum sepenuhnya dibuka ke publik.

“Yang aslinya bukan Pasir Cabe. Dulu disembunyikan. Nanti kalau sudah waktunya, akan dibuka dan diceritakan,” katanya.

Nyai Iming juga menuturkan, tidak semua orang diperkenankan memasuki area inti petilasan. Hanya mereka yang memahami adab dan tujuan ziarah yang diperbolehkan, demi menjaga kebersihan, ketenangan, dan kesakralan kawasan tersebut.

“Keramaian itu harus dipelihara, jangan sampai dikotori. Ini tempat penyebaran agama, jadi harus benar-benar dijaga,” ujarnya.

Meski jumlah peziarah tidak banyak, sebagian masyarakat datang untuk mencari ketenangan batin. Suasana kawasan yang sejuk dan tenang dipercaya mampu memberikan rasa damai bagi pengunjung yang tengah menghadapi persoalan hidup.

“Kalau orang Sunda bilangnya tiis, jadi hati tenang,” tuturnya.

Di dalam kawasan petilasan terdapat beberapa titik yang diyakini sebagai penyawangan atau tempat duduk, yang dulunya digunakan untuk beristirahat dan mengamati wilayah sekitar. Namun, identitas lengkap para leluhur yang diyakini menjaga kawasan tersebut belum dapat disampaikan secara terbuka.

Nyai Iming menegaskan, keterbatasan informasi yang dibagikan saat ini dilakukan demi kehati-hatian. Ia masih berkoordinasi dengan sejumlah peneliti budaya dan sejarah agar informasi yang disampaikan ke publik memiliki dasar yang kuat.

“Ini masih tahap dasar untuk penelitian. Belum waktunya dibuka semua,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Karyamukti, Fikri Aditia, menyatakan bahwa keberadaan Petilasan Kiai Haji Hasan Husen merupakan bagian penting dari identitas sejarah dan budaya masyarakat desa. Pemerintah desa, kata dia, mendukung penuh upaya pelestarian kawasan tersebut agar nilai sejarah dan religiusnya tetap terjaga.

“Petilasan ini bukan hanya situs budaya, tetapi juga bagian dari sejarah dakwah Islam di wilayah Karyamukti dan Kota Banjar. Kami sangat menghormati dan mendukung upaya pelestarian yang dilakukan juru kunci dan masyarakat,” ujar Fikri.

Ia menegaskan, pengelolaan kawasan petilasan harus dilakukan secara hati-hati dengan tetap mengedepankan kearifan lokal serta menjaga nilai kesakralan. Karena itu, pemerintah desa bersikap selektif dalam membuka akses dan informasi kepada publik.

“Kami tidak ingin tempat ini hanya menjadi objek wisata biasa. Nilai spiritual dan sejarahnya harus tetap menjadi yang utama,” katanya.

Fikri juga membuka peluang kerja sama dengan peneliti budaya dan sejarah untuk menggali jejak dakwah Kiai Haji Hasan Husen secara akademis. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan resmi dan sumber edukasi sejarah bagi generasi muda di masa mendatang. (Johan Wijaya)