Berita  

Tengah Ancaman Longsor, Gotong Royong Warga Cikapundung Jaga Akses Tetap Terbuka

 

Banjar, LingkarJabar – Di tengah guyuran hujan yang tak kunjung reda, semangat gotong royong warga Dusun Cikapundung, Desa Neglasari, justru menguat. Bahu jalan penghubung Desa Neglasari–Desa Binangun yang longsor pada Sabtu (4/4/2026) tak hanya menyisakan kerusakan, tetapi juga menghadirkan cerita tentang kepedulian dan gerak cepat masyarakat menjaga akses vital tetap terbuka.

Longsor yang terjadi akibat intensitas hujan tinggi itu membuat sebagian bahu jalan ambles. Kondisi tersebut mempersempit badan jalan dan meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi kendaraan roda empat yang melintas di jalur tersebut.

Namun, tanpa menunggu lama, warga langsung turun tangan. Dipimpin Kepala Dusun Cikapundung, Enju Suhendar, mereka bahu-membahu melakukan perbaikan darurat secara swadaya. Dengan alat sederhana, warga berupaya menahan tanah yang terus bergerak agar tidak semakin menggerus badan jalan.

“Ini jalan utama warga. Kalau tidak segera ditangani, bisa membahayakan dan menghambat aktivitas masyarakat,” ujar Enju di sela kegiatan gotong royong.

Bagi warga, jalan tersebut bukan sekadar penghubung antar desa, tetapi juga jalur penting untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan darurat. Karena itu, menjaga agar akses tetap bisa dilalui menjadi prioritas bersama.

Di tengah keterbatasan, semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama. Warga saling membantu, mulai dari mengangkut material hingga menyusun penahan darurat di titik longsor. Upaya ini dilakukan demi memastikan kendaraan masih bisa melintas, meski dengan kehati-hatian ekstra.

Sementara itu, pihak dusun juga telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kota Banjar. Respons awal datang dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) yang memberikan bantuan karung sebagai penanganan sementara untuk memperkuat bahu jalan.

Meski demikian, warga berharap ada langkah lanjutan berupa perbaikan permanen. Pasalnya, kondisi tanah yang labil dan cuaca yang masih berpotensi hujan dapat memicu longsor susulan.

“Bantuan sudah ada, tapi kami berharap segera ada perbaikan yang lebih kuat dan permanen,” tambah Enju.

Hingga saat ini, gotong royong masih terus dilakukan. Di tengah ancaman longsor, warga memilih tidak tinggal diam. Mereka menjaga jalan itu tetap hidup—bukan hanya sebagai akses fisik, tetapi juga sebagai simbol solidaritas dan kepedulian antar sesama.

Warga pun mengimbau para pengguna jalan untuk lebih berhati-hati saat melintas, terutama saat hujan turun. Karena di balik jalan yang masih bisa dilalui itu, ada kerja keras dan kebersamaan yang terus dijaga.(Johan Wijaya)