BANJAR. LingkarJabar – Proses rekrutmen calon pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Banjar menuai sorotan dari berbagai elemen masyarakat. Mereka mendesak agar seleksi dilakukan secara transparan, objektif, serta bebas dari kepentingan politik maupun kelompok tertentu demi menjaga integritas lembaga pengelola zakat tersebut.
Salah satu suara kritis datang dari Ketua Pengelola Siber University Muhammadiyah Pokja Pangandaran, Dr. (Chad) Sulyanati, SH, M.Si, M.Kn. Dalam pernyataannya kepada media pada Jumat malam 06 Juni 2025 di sebuah kafe di Kota Banjar, Sulyanati mengingatkan pentingnya menjaga proses seleksi dari intervensi politik.
“Saya kira wajar jika ada resistansi pada 10 besar. Namun, saat menentukan 5 besar, proses harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ujarnya.
Sulyanati yang juga dikenal dengan sapaan Komeng itu menegaskan bahwa hasil seleksi harus didasarkan pada penilaian yang terukur dan adil. Ia berharap seluruh tahapan seleksi, mulai dari tes CAT hingga wawancara, benar-benar mencerminkan kompetensi dan kelayakan calon, bukan sekadar formalitas atau alat legitimasi bagi pihak tertentu.
Ia menyoroti fenomena melonjaknya nilai beberapa kandidat dalam sesi wawancara yang tertutup, yang menurutnya dapat memunculkan prasangka publik.
“Faktualnya, ada kandidat yang nilainya rendah di CAT tapi naik drastis saat wawancara. Ini menimbulkan pertanyaan soal objektivitas,” tegasnya.
Lebih jauh, Sulyanati mengungkapkan kekhawatiran atas dominasi satu kelompok tertentu dalam lima besar hasil seleksi, yang memiliki kedekatan dengan unsur personal panitia seleksi. Ia bahkan menyinggung adanya calon yang pernah menjadi caleg dalam Pemilu 2024 dan memiliki latar belakang kepartaian.
“Meski secara hukum formil sah, namun tetap harus ada pertimbangan etik, kepatutan, dan keadilan publik. Di sinilah peran penting Wali Kota dalam mengambil keputusan yang adil dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat,” paparnya.
Ia juga menekankan perlunya regenerasi kepemimpinan dan kolaborasi antar generasi dalam struktur BAZNAS. Menurutnya, persepsi bahwa BAZNAS hanya menampung pensiunan perlu diluruskan dengan menghadirkan sosok muda yang visioner.
“Beberapa yang sudah berada di maqom ketokohan, biarlah tetap menjadi tokoh masyarakat. Tapi regenerasi penting untuk masa depan lembaga,” katanya.
Dalam hal pengisian posisi pimpinan BAZNAS, Sulyanati menyarankan agar ormas keagamaan dilibatkan secara lebih aktif dan keputusan tetap berada di tangan wali kota dengan mempertimbangkan hasil seleksi yang transparan.
“Semua ini untuk memastikan BAZNAS Banjar benar-benar bebas dari tendensi politik dan menjadi lembaga yang profesional, amanah, serta dipercaya dalam mengelola dana umat,” pungkasnya.
Diharapkan, dengan pimpinan yang kredibel dan independen, BAZNAS Kota Banjar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga marwah lembaga zakat sebagai pilar sosial umat. (Joe)






