BANJAR, LingkarJabar — Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, Agus Mulyana, menegaskan bahwa stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODA) harus dihentikan. Pesan itu disampaikannya pada puncak peringatan Hari AIDS Sedunia yang digelar di Lapangan Tenis Pendopo Kota Banjar, Rabu (10/12/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Agus mengungkapkan fakta yang jarang diketahui publik. Dari 430 kasus HIV yang tercatat di Kota Banjar, sebagian di antaranya justru merupakan ibu rumah tangga yang tertular dari pasangan. Temuan ini, kata Agus, membuktikan bahwa HIV tidak hanya menyerang kelompok yang selama ini dianggap berisiko tinggi.
“Jangan ada lagi pengucilan. Stigma negatif harus dihentikan. ODA harus dirangkul, bukan dijauhi,” tegasnya.
Agus juga menjelaskan alasan tidak hadirnya komunitas risiko dalam acara puncak. Menurutnya, rangkaian peringatan Hari AIDS Sedunia dibagi menjadi dua sesi. Yakni, Sesi Edukasi dan pemeriksaan VCT untuk kelompok berisiko dan sesi Sesi Edukasi dan kampanye kesehatan bagi remaja SMA se-Kota Banjar.
“Ada yang mengira ini bentuk stigma. Tidak begitu. Kelompok risiko sudah mendapatkan sesi khusus. Hari ini kita fokus pada remaja yang diharapkan menjadi corong edukasi karena mereka adalah generasi emas 2045,” jelas Agus.
Menanggapi isu efisiensi anggaran daerah, Agus menegaskan bahwa layanan untuk ODA tidak boleh terganggu. Tantangan terbesar saat ini, menurutnya, adalah mendorong kelompok risiko agar memiliki kesadaran untuk memeriksakan diri dan tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan.
“ODA harus tetap dilayani, dilindungi, dan diberi semangat untuk hidup. Itu prinsip dasarnya,” ujarnya.
Agus juga menyoroti adanya keluhan terkait biaya pendaftaran rumah sakit bagi pasien ODA yang mencapai sekitar Rp65.000. Ia menyebut isu tersebut perlu dibahas lebih lanjut agar tidak menjadi hambatan bagi masyarakat kurang mampu dalam mengakses layanan kesehatan.
Penghargaan untuk Tokoh dan Lembaga Peduli HIV/AIDS
Pada momen Hari AIDS Sedunia tahun ini, KPA Kota Banjar memberikan penghargaan kepada sejumlah pihak yang dinilai berkontribusi dalam penanggulangan HIV/AIDS. Penghargaan diberikan kepada Camat Langensari, puskesmas, pemerintah desa, hingga para kader yang aktif di lapangan. (Johan Wijaya)






