BANJAR, LingkarJabar – Kasus dugaan keracunan massal akibat hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa siswa SMPN 3 Banjar terus mendapat sorotan. Hingga Kamis 02 Oktober 2025 tercatat dari total 79 siswa yang sempat menjalani perawatan, sebanyak 37 orang sudah dipulangkan, sementara sisanya masih dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan.
Poros Sahabat Nusantara (Posnu) Kota Banjar menilai peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi serius bagi penyelenggara MBG. Muhlison, perwakilan Posnu, menegaskan kejadian tersebut tidak bisa dianggap sepele.
“Ini menyangkut keselamatan anak-anak kita. Kalau standar higienitas dan mutu makanan tidak dijaga, program justru berbalik menjadi ancaman,” katanya.
Menurutnya, MBG adalah program prioritas pemerintah dengan tujuan mulia, bahkan menyasar bukan hanya pelajar, tetapi juga ibu hamil. Namun lemahnya pengawasan membuat pelaksanaan di lapangan masih jauh dari harapan.
“Anggaran dan porsinya jelas. Tapi kalau pelaksanaan tidak sesuai, kepercayaan masyarakat bisa runtuh,” tegasnya.
Posnu juga menyoroti aspek legalitas. Muhlison mendesak agar mitra dapur dan pemasok bahan baku MBG wajib berbadan hukum, sehingga pertanggungjawaban lebih jelas bila terjadi masalah. Ia juga mengingatkan agar pengelolaan sanitasi dan limbah dapur mendapat perhatian, karena berpotensi menimbulkan persoalan baru di lingkungan.
Meski begitu, Posnu mengakui masih ada dapur pengelola yang dinilai cukup baik dan sesuai standar. Hal itu disebut sebagai bukti bahwa program MBG bisa berjalan maksimal jika ada komitmen serius.
“Program ini harus dibenahi secara total. Jangan sampai kasus seperti ini mengikis kepercayaan publik. Yang kita harapkan adalah anak-anak sehat, bukan justru jadi korban,” pungkasnya






