LingkarJabar – Pagi itu langit Jakarta tampak cerah, seolah ikut menyambut langkah para delegasi yang melangkah masuk ke ruang pertemuan. Suara-suara kursi yang bergeser dan bisik pelan antar pejabat menciptakan suasana yang hangat. Di tengah ruang itu, delegasi Parlemen Jawa Barat dan Prefektur Shizuoka duduk berhadapan.
“Kerja sama ini bukan sekadar kunjungan,” ujar Buky, salah satu perwakilan Jabar, membuka percakapan.
Saya melihat mata para tamu Jepang itu berbinar. Salah satunya, perwakilan Prefektur Shizuoka, menanggapi dengan senyum sopan. “Kami datang dengan komitmen baru. Kami membutuhkan tenaga kerja profesional, terutama sopir. Indonesia memiliki potensi besar. Sistem mengemudi kita sama. Ini peluang yang sangat baik.”
Dialog itu terekam dalam laporan berjudul “Parlemen Jabar–Shizuoka Perkuat Kerja Sama Jajaki Industri–Pendidikan” (14 November 2025).
“Masalahnya hanya regulasi SIM,” tambah Buky. “Tapi kita bisa siapkan pelatihan khusus bagi calon sopir dari Jawa Barat.”
Pertemuan itu berlanjut dengan pembahasan pariwisata. Delegasi Shizuoka mengungkapkan minat menjadikan Geopark Ciletuh sebagai destinasi wisata pendidikan bersama.
“Ciletuh punya energi alam yang kuat,” kata salah satu delegasi sambil menatap foto tebing-tebing raksasa di layar presentasi. “Kami ingin membawa pelajar kami ke sana, untuk belajar dari tanah Jawa Barat.”
Saya mengangguk pelan saat menyimak kisah itu. Ada harapan, tetapi juga ada tanya yang diam-diam mengetuk pintu pemikiran.
Setelah pertemuan usai, saya duduk di lobi gedung sambil memandangi derasnya lalu lintas ibu kota. Pikiran saya berkelana. Kerja sama selalu tampak indah di awal. Tetapi Negara berkembang sering masuk ke ruang kerja sama yang tampak menguntungkan, tetapi tetap berada di posisi yang tidak menentukan.
Ketergantungan terhadap investasi asing dapat membuat masyarakat lokal hanya menjadi roda kecil dalam mesin besar global.
“Apakah kita sedang menuju kemandirian, atau menuju ketergantungan baru?” bisik hati saya.
Di sisi lain, saya juga memahami bahwa pemerintah harus mengambil langkah taktis untuk membuka kesempatan ekonomi. Ruang fiskal terbatas. Tantangan global besar. Kolaborasi internasional bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan.
Di tengah dilema itu, saya mendengar suara hati kecil saya bertanya, “Bagaimana kita tetap berjalan tanpa kehilangan arah?”
Beberapa pekan kemudian, saya mengunjungi Geopark Ciletuh. Senja meneteskan sinar keemasan di sela bukit-bukit hijau. Angin mengibaskan daun-daun kelapa seakan mengantar pesan waktu.
Saya bertemu seorang warga lokal bernama Dimas, pemuda 27 tahun, yang bekerja sebagai pemandu wisata.
“Mas, gimana menurutmu kalau Jepang mau jadikan Ciletuh sebagai destinasi wisata pendidikan?” tanya saya.
Dimas tersenyum, tapi ada jeda sebelum ia menjawab. “Bagus, Pak. Kami senang Ciletuh dilihat dunia. Tapi… saya ingin orang sini tetap jadi tuan rumah. Jangan sampai kami hanya nonton tamu datang, lalu kami kerja serabutan.”
Saya menatapnya dalam-dalam. Kalimat pendek yang jujur itu menusuk.
Di balik wajah-wajah yang menyambut kerja sama, ada harapan anak negeri yang ingin dihargai, ingin memegang kendali atas tanahnya sendiri.
Ketika Sistem Dunia Menuntut Kita untuk Waspada
Kita hidup dalam dunia yang diatur oleh kekuatan besar. IMF, Bank Dunia, WTO, dan berbagai lembaga global lain mengatur banyak hal: perdagangan, investasi, bahkan regulasi pendidikan.
Tidak ada yang salah dengan kerja sama lintas negara. Namun keliru jika kita tidak waspada terhadap kemungkinan dominasi nilai dan kepentingan.
Allah Swt. mengingatkan dengan tegas, “Dan Allah tidak akan memberikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.”(QS. An-Nisa: 141)
Ayat itu bukan larangan untuk berhubungan dengan dunia luar. Tetapi alarm agar umat tidak kehilangan kendali atas tanah, manusia, dan masa depannya.
Rasulullah saw. juga mengingatkan tentang peran pemimpin, “Seorang pemimpin adalah penggembala, dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, setiap kebijakan, termasuk kerja sama internasional, harus menjamin kemaslahatan rakyat, bukan meminggirkan mereka.
Cahaya dari Jalan Islam: Menjaga Kemandirian, Menguatkan Martabat
Islam menawarkan cara pandang yang jernih. Kerja sama boleh dibangun. Persahabatan boleh dijalin. Tetapi harga diri umat tidak boleh ditukar.
Kita butuh kepemimpinan yang berpikir sahih dan berjiwa besar. Kepemimpinan yang tidak alergi pada kolaborasi, namun tetap menjaga garis batas yang menjaga kedaulatan.
Islam menempatkan pendidikan sebagai fondasi peradaban. Pendidikan tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membangun karakter, iman, dan kecerdasan.
Visi Islam memandang manusia bukan sebagai roda industri, tetapi sebagai penjaga bumi.
Rasulullah saw. membangun kerja sama dengan berbagai suku dan negeri. Tetapi beliau tidak pernah membiarkan umatnya kehilangan kemandirian.
Prinsip itu sederhana, berinteraksi tanpa menyerahkan kendali.
Berkolaborasi tanpa kehilangan arah.
Menerima dunia, tetapi tidak larut dalam arusnya.
Saat matahari turun di ufuk Ciletuh pada sore itu, Dimas berkata pelan, “Pak, kami tidak ingin hanya jadi pekerja. Kami ingin ikut menentukan masa depan.”
Kata-katanya mengalir seperti doa.
Saya memandang tebing-tebing tua yang berdiri kokoh. “Ciletuh ini saksi banyak zaman,” kata saya. “Dia tetap berdiri, karena akarnya kuat.”
Begitu pula kita. Kita boleh menyambut peluang global, tetapi akar kemartabatan bangsa harus tetap kuat.
Kerja sama dengan Shizuoka membuka pintu masa depan. Namun masa depan itu harus dibangun oleh rakyat sendiri, dengan keyakinan, dengan ilmu, dan dengan keberanian menjaga kehormatannya.
Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling banyak menerima bantuan, tetapi bangsa yang paling teguh menjaga jati dirinya.
Penulis : Ummu Fahhala
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)






