BANJAR, LingkarJabar – Kerusakan jalan penghubung Desa Sukamukti dan Kelurahan Hegarsari kembali terjadi. Di titik Dusun Tembungkerta RT 05/RW 10, badan jalan dilaporkan amblas hingga sekitar 15 sentimeter, memicu kekhawatiran warga karena dinilai membahayakan keselamatan pengendara.
Kondisi tersebut semakin berisiko saat malam hari dan musim hujan. Minimnya penerangan jalan umum (PJU) di lokasi membuat bagian jalan yang ambles sulit terlihat, sehingga berpotensi memicu kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua.
Kepala Desa Sukamukti, Budi, membenarkan kerusakan tersebut. Ia menyebutkan, kondisi jalan sudah mengalami kerusakan sejak bulan puasa lalu dan sempat ditangani dengan perbaikan sementara menggunakan cor beton.
Namun, upaya tersebut belum mampu bertahan lama karena kondisi tanah di lokasi yang dinilai labil.
“Kami sudah meninjau langsung ke lokasi. Kedalamannya sekitar 15 sentimeter. Sudah pernah diperbaiki, tapi kembali ambles,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, pemerintah desa telah berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk penanganan lebih lanjut. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama untuk melakukan perbaikan permanen.
“Karena ini merupakan jalan berstatus jalan kota, kami berharap ada tindak lanjut segera dari instansi terkait. Kami juga berencana kembali mengajukan permohonan penanganan pada Senin mendatang,” katanya.
Ia juga mengingatkan potensi ambles susulan, mengingat karakteristik tanah di lokasi tersebut yang kurang stabil. Terlebih, kondisi jalan yang gelap pada malam hari semakin meningkatkan risiko bagi pengguna jalan.
“Sejauh ini memang belum ada laporan kecelakaan, namun jangan sampai menunggu ada korban dulu baru ditangani,” tegasnya.
Di lapangan, warga menilai kerusakan yang terus berulang menunjukkan perlunya penanganan yang lebih menyeluruh, bukan sekadar perbaikan tambal sulam. Dede, warga Dusun Tembungkerta Blok Cihejo, menduga adanya aliran air di bawah tanah menjadi salah satu penyebab utama amblesnya jalan.
“Sudah sering diperbaiki, tapi ambles lagi. Kemungkinan di bawahnya ada aliran air, jadi kalau hujan deras tanahnya bergeser,” ungkapnya.
Kekhawatiran juga disampaikan Hasan Sule, warga Dusun Muktisari Blok Batu Peti. Ia mengaku kondisi jalan tersebut cukup mengganggu rasa aman saat melintas, terutama pada malam hari.
“Setiap lewat sini pasti was-was, apalagi kalau malam. Jalannya gelap, terus ada bagian yang amblas. Takutnya ban motor masuk ke lubang,” ujarnya.
Ia berharap penanganan ke depan tidak lagi bersifat sementara dan benar-benar memperhatikan kekuatan konstruksi jalan.
“Kalau bisa jangan tambal sulam saja. Harus ada perbaikan yang benar-benar kuat supaya aman dilalui,” tambahnya.
Selain kerusakan fisik jalan, warga juga menyoroti minimnya penerangan jalan umum di lokasi yang dinilai memperparah risiko kecelakaan. Padahal, jalur tersebut merupakan akses alternatif yang cukup vital karena mampu memangkas jarak tempuh menuju pusat kota.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kecelakaan akibat kondisi tersebut. Meski demikian, warga berharap langkah penanganan dapat segera dilakukan sebagai upaya pencegahan, bukan menunggu jatuhnya korban.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap berhati-hati saat melintasi jalur tersebut, terutama saat hujan dan pada malam hari. (Johan Wijaya)






