Berita  

Gegara Terbentur Regulasi, 93 Petugas Kebersihan Kota Banjar Diputus Kontrak

BANJAR. LingkarJabar – Setelah puluhan tahun mengabdikan diri menyapu jalan sejak subuh hingga senja, sebanyak 93 petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjar kini harus menelan kenyataan pahit: kontrak kerja mereka resmi diputus akibat persoalan administratif.

Para petugas kebersihan ini selama bertahun-tahun menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan dan keindahan Kota Banjar. Namun, pengabdian panjang mereka terhenti karena tidak memenuhi syarat administrasi dalam regulasi baru kepegawaian, termasuk ketentuan usia untuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

Kepala DLH Kota Banjar, Eri Kusuma Wardhana, menyampaikan bahwa keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para pesapon ini merupakan hal yang sangat berat. Ia mengakui adanya kedekatan emosional yang telah terjalin antara pihaknya dan para petugas.

“Ini bukan soal kinerja mereka. Kami sangat mengapresiasi kerja keras dan loyalitas mereka selama ini. Namun, ada aturan administratif yang harus dipatuhi, dan sayangnya sebagian besar dari mereka tidak memenuhi persyaratan itu,” ujar Eri Kusuma Wardhana, Senin 30 Juni 2025.

Diketahui, sebagian besar dari petugas kebersihan yang terdampak telah bekerja selama lebih dari 20 tahun. Mereka harus menerima kenyataan dikeluarkan dari pekerjaan yang telah menjadi bagian hidup mereka.

Salah seorang petugas yang enggan disebutkan namanya menyampaikan rasa sedihnya.

“Saya sudah kerja lebih dari 20 tahun. Bangun sebelum matahari terbit, jaga kebersihan kota tanpa kenal lelah. Sekarang tiba-tiba harus berhenti karena alasan administrasi. Rasanya seperti tidak dihargai,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai bentuk kepedulian awal, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp600.000 per orang. Namun jumlah tersebut dianggap belum sebanding dengan pengabdian panjang para petugas, yang kini menghadapi masa depan dengan penuh ketidakpastian.

DLH Kota Banjar tengah mengupayakan agar para eks petugas kebersihan tersebut bisa mendapatkan pelatihan keterampilan atau bantuan sosial sebagai bentuk penghargaan atas jasa mereka.

Perjalanan para pahlawan kebersihan ini menjadi cerminan nyata bahwa di balik wajah bersihnya sebuah kota, ada perjuangan para pekerja lapangan yang sering kali luput dari perhatian. Kini, harapan mereka tertumpu pada kepedulian pemerintah dan masyarakat agar pengabdian mereka tidak dilupakan begitu saja. (Joe)