Di Tengah Ketimpangan Akses Pendidikan, Yayasan Nurussalam Ciamis Jadi Benteng Sosial Anak Yatim dan Dhuafa

Di Tengah Ketimpangan Akses Pendidikan, Yayasan Nurussalam Ciamis Jadi Benteng Sosial Anak Yatim dan Dhuafa. Foto: Ist/LJ

CIAMIS, LingkarJabar  – Ketimpangan akses pendidikan masih menjadi persoalan nyata bagi anak yatim dan dhuafa di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Ciamis. Di tengah kondisi tersebut, Yayasan Nurussalam Ciamis hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai benteng sosial yang menjaga anak-anak rentan agar tidak terpinggirkan oleh keterbatasan ekonomi dan sosial.

Yayasan Nurussalam mengembangkan pendekatan pendidikan terpadu yang menggabungkan pembelajaran formal, pengasuhan, serta pembinaan karakter berbasis nilai keagamaan. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab persoalan mendasar yang kerap dihadapi anak yatim dan dhuafa, mulai dari keterbatasan akses sekolah, minimnya pendampingan keluarga, hingga kerentanan sosial dan psikologis.

Pimpinan Yayasan Nurussalam, Kyai Nanang Nursalam, menyampaikan bahwa kehadiran yayasan merupakan bentuk ikhtiar sosial untuk memastikan negara dan masyarakat tidak abai terhadap masa depan anak-anak dari kelompok rentan.

“Ketika keluarga dan lingkungan tidak mampu memberikan perlindungan yang cukup, maka lembaga sosial harus hadir. Anak yatim dan dhuafa tidak boleh menjadi korban dari sistem yang tidak ramah terhadap mereka,” ujar Kyai Nanang Nursalam, Sabtu (31/1/2026).

Dalam praktiknya, Yayasan Nurussalam mengelola sejumlah unit pendidikan dan layanan sosial yang saling terintegrasi, seperti Pondok Pesantren Nurussalam, SMP Islam Terpadu (SMPIT) Nurussalam, RA Baiturahman, Kober/PAUD Nurussalam, serta Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Nurussalam.

Seluruh unit tersebut menjadi satu ekosistem pendidikan dan pengasuhan yang berkelanjutan.
Menurut Kyai Nanang, pendidikan yang diberikan tidak berhenti pada pencapaian akademik semata, melainkan diarahkan untuk membangun daya tahan mental dan sosial anak-anak agar mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

“Kami ingin anak-anak ini tumbuh sebagai pribadi yang kuat, tidak rendah diri, dan memiliki pegangan nilai. Pendidikan harus memberi mereka daya hidup, bukan sekadar ijazah,” katanya.

Melalui LKSA Nurussalam, anak-anak yatim dan dhuafa mendapatkan pendampingan menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, tempat tinggal, pendidikan, hingga pembinaan kedisiplinan dan kemandirian. Pola ini menjadikan yayasan sebagai ruang aman yang melindungi anak-anak dari risiko putus sekolah dan keterasingan sosial.

Yayasan Nurussalam juga membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat, donatur, dan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan sosial. Yayasan meyakini bahwa persoalan anak yatim dan dhuafa bukan hanya tanggung jawab lembaga, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.

Di tengah tantangan sosial yang terus berkembang, Yayasan Nurussalam Ciamis menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga hak anak atas pendidikan, pengasuhan, dan masa depan yang lebih adil. (Johan Wijaya)