Berita  

ASN Jadi Korban, Pencurian Pecah Kaca Menghantui Perkantoran Kota Banjar

ASN Jadi Korban, Pencurian Pecah Kaca Menghantui Perkantoran Kota Banjar. Foto: Johan WIjaya/LJ

BANJAR, LingkarJabar – Rasa aman di kawasan perkantoran pemerintahan Kota Banjar kembali dipertanyakan. Aksi pencurian dengan modus pecah kaca untuk ketiga kalinya terjadi di Jalan Kapten Jamhur, tepatnya di depan Kantor Dinas Kesehatan Kota Banjar, Selasa (3/2/2026) siang.

Ironisnya, lokasi kejadian berada di jantung aktivitas pemerintahan, kawasan yang semestinya memiliki pengamanan ekstra. Kali ini, mobil Honda Freed bernomor polisi Z 1409 YK milik Nana Herdiana, Aparatur Sipil Negara (ASN) RSUD Kota Banjar, menjadi sasaran pelaku kejahatan.

Akibat kejadian tersebut, satu unit laptop dan uang tunai sebesar Rp3 juta yang tersimpan di dalam tas raib digondol pencuri. Total kerugian korban diperkirakan mencapai Rp8 juta.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 13.00 WIB, saat aktivitas perkantoran masih berlangsung ramai. Kendaraan korban diparkir di area sekitar Kantor Dinas Kesehatan sebelum ia masuk untuk urusan dinas. Namun, tak sampai 10 menit berselang, kabar mengejutkan datang.

“Saya baru masuk ke kantor, tidak lama kemudian diberi tahu kalau kaca mobil sudah pecah,” tutur Nana dengan nada kecewa.

Petugas kepolisian dari Polsek Banjar dan Polres Banjar segera mendatangi lokasi kejadian setelah menerima laporan. Tim Inafis Polres Banjar melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengumpulkan barang bukti serta mengidentifikasi pelaku.

Kapolsek Banjar AKP Yudy Ristiyanto membenarkan insiden tersebut. Ia mengungkapkan kasus pencurian dengan modus serupa di lokasi yang sama telah terjadi sebanyak tiga kali.

“Pelaku mengambil satu unit laptop dan uang tunai Rp3 juta. Total kerugian korban sekitar Rp8 juta,” jelasnya.

AKP Yudy menduga pelaku memanfaatkan kondisi area parkir yang minim pengawasan, serta kebiasaan sebagian pemilik kendaraan yang meninggalkan barang berharga di dalam mobil. Ia pun mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, meskipun hanya memarkir kendaraan dalam waktu singkat.

Rentetan kejadian ini dinilai menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah dan pengelola fasilitas publik. Evaluasi sistem keamanan dinilai mendesak, mulai dari pemasangan CCTV, peningkatan penerangan, hingga pengawasan parkir yang lebih ketat.

Kasus ini kembali menegaskan bahwa keamanan ruang publik di Kota Banjar masih memerlukan perhatian serius, agar masyarakat dan aparatur negara dapat beraktivitas tanpa dihantui rasa waswas. (Johan Wijaya)