PANGANDARAN, LingkarJabar — Ajang Pekan Paralimpik Daerah (Pepaperda) IV Jawa Barat menjadi panggung bagi para pelajar penyandang disabilitas dari berbagai daerah untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Tak sekadar kompetisi, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan memperkuat semangat sportivitas di kalangan atlet muda difabel.
Kepala PKBM Brilliant Pangandaran, Rina Herlina, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap perjuangan Adi Ardiansyah, siswa yang sukses menorehkan prestasi membanggakan pada ajang tersebut. Menurutnya, Adi telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi para pelajar dengan keterbatasan fisik.
“Keterbatasan bukan penghalang untuk meraih tujuan. Dengan tekad dan disiplin latihan, banyak hal luar biasa yang bisa dicapai. Kami berharap pemerintah dapat memberi perhatian dan dukungan lebih bagi para penyandang disabilitas di Pangandaran,” ujar Rina, Rabu 15 Oktober 2025.
Rina menambahkan, keberhasilan Adi diharapkan mampu memotivasi siswa lain untuk terus berjuang dan percaya diri dalam menggapai cita-cita, tanpa takut menghadapi tantangan apa pun.
Sementara itu, Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Pangandaran, Wahyu Hidayah, mengungkapkan bahwa perjalanan menuju Pepaperda IV bukanlah hal mudah. Proses pembinaan atlet difabel, kata dia, membutuhkan waktu panjang, ketekunan, dan dedikasi tinggi.
“Perjalanan menuju Pepaperda ini luar biasa. Latihan yang penuh perjuangan akhirnya berbuah hasil — medali perak dan perunggu. Kami sangat bersyukur,” tutur Wahyu.
Meski belum berhasil meraih medali emas, Wahyu tetap optimistis capaian tersebut menjadi langkah awal menuju prestasi yang lebih besar di masa mendatang.
“Kami berharap dukungan dari Pemkab Pangandaran agar pembinaan atlet difabel bisa lebih maksimal, sehingga ke depan bisa meraih emas di ajang berikutnya,” tambahnya.
Prestasi yang diraih Adi Ardiansyah menjadi bukti nyata bahwa dengan semangat juang, ketekunan, dan dukungan yang tepat, atlet difabel asal Pangandaran mampu bersaing di tingkat provinsi — bahkan berpotensi menorehkan prestasi di kancah nasional.






