BANJAR, LingkarJabar – Daun yang gugur, bunga yang layu, tak sekadar hilang ditelan waktu. Di tangan Suci Damayanti, mereka berubah menjadi jejak warna abadi di atas kain. Itulah Batik Nanuka Ecoprint, ketika alam menyapa kain dengan keindahan yang sederhana namun memikat.
Bagi Suci, setiap helai batik adalah karya seni. “Produksi sehari paling 30 meter, karena bentuknya gulungan. Setiap pesanan langsung kami kerjakan secara manual, sehingga hasilnya punya karakter unik,” tuturnya. Kamis 25 September 2025, ketika di temui di kediaman nya.
Kini, pesanan Batik Nanuka bahkan menembus kalangan mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta, hingga merambah ke luar daerah: Yogyakarta, Pati, Kudus, Semarang, sampai Surabaya, bahkan luar provinsi yaitu Bengkulu, Bali dan lombok.
Dari ruang kecil produksinya, karya Batik Nanuka terus menjejak di berbagai kota dan Provinsi. Dalam sehari, Suci bersama tim mampu menghasilkan 30–40 gulung kain. Dengan prosesnya tidak sederhana. Setiap lembar melalui teknik kukus selama dua jam, dengan kapasitas sekali kukus mencapai 30 gulung. Dari sana lahir dua jenis karya: batik sintetis dan ecoprint, masing-masing punya pesona tersendiri.
Kerja keras itu pun mulai membuahkan hasil. Saat ini, Batik Nanuka mampu meraih omzet Rp5–10 juta per bulan. Bagi Suci, angka ini bukan hanya soal keuntungan, tetapi bukti bahwa karya lokal bisa bertahan, berkembang, dan bersaing.
Tak hanya di pasar, Batik Nanuka Ecoprint juga tampil di panggung kreativitas, salah satunya di ajang Sunda Karsa Fast Karya Kreatif Jawa Barat 2025. Sebuah pencapaian yang semakin memperkenalkan karya lokal Banjar ke khalayak lebih luas.
“Semoga UMKM di Banjar semakin maju, bisa dikenal luas, dan bersaing di tingkat nasional. Karena setiap karya lokal punya cerita, punya jiwa, dan pantas mendapat tempat di hati masyarakat,” harap Suci.






