Berita  

Lembur Kuring di Pangandaran Jadi Simbol Kemandirian dan Gerakan Hijau Berbasis Gotong Royong

Tokoh masyarakat sekaligus budayawan,Yana Macan. Foto: Agus Giantoro/LJ

PANGANDARAN, LingkarJabar – Sebuah gerakan lokal sarat makna tumbuh di Dusun Bojongkarekes, RW 13, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Warga setempat membangun Lembur Kuring, bukan hanya sebagai kawasan hunian, melainkan simbol kemandirian pangan, kepedulian lingkungan, sekaligus ruang kebersamaan.

Melalui program bertajuk “Ngarumat Kampung, Mulasara Desa”, masyarakat berinisiatif mengubah wajah dusun menjadi lebih hijau. Setiap halaman rumah kini dipenuhi tanaman rempah, sayuran, hingga tanaman obat keluarga (TOGA). Lahan yang sebelumnya gersang kini menjelma menjadi kebun produktif penopang ketahanan pangan keluarga.

Tokoh masyarakat sekaligus budayawan,Yana Macan, menuturkan bahwa gerakan ini lahir dari kesadaran kolektif warga akan pentingnya kedaulatan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

“Ini bentuk cinta kami terhadap lembur kuring, tanah tempat kami tumbuh. Kami ingin kampung ini tangguh, hijau, dan penuh semangat berbagi,” ujarnya, Rabu 17 September 2025.

Tak hanya soal pangan, warga juga fokus menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi penggunaan plastik. Sampah tidak lagi berserakan, sementara kantong plastik diganti dengan daun pisang, daun jati, dan wadah ramah lingkungan.

“Langkah ini bagian dari upaya nyata meminimalkan limbah plastik sekaligus memperkuat budaya lokal yang ramah alam,” tambah Yana.

Kebersamaan warga makin terasa lewat kegiatan rutin “Jumat Berkah”, di mana mereka membagikan makanan olahan hasil kebun sendiri secara gratis tanpa kemasan plastik. Sajian berupa kudapan tradisional, minuman herbal, hingga camilan sehat menjadi simbol rasa syukur dan perekat hubungan sosial.

Filosofi nama “Lembur Kuring” juga sarat makna. Dalam bahasa Sunda, kuring berarti “saya” atau “kami”, menandakan tanggung jawab kolektif terhadap kampung halaman. Semangat inilah yang menggerakkan warga untuk menjaga kebersamaan, kemandirian, serta keberdayaan.

Gerakan ini pun menarik perhatian banyak pihak. Tokoh desa hingga dusun-dusun tetangga mulai meniru konsep serupa. Beberapa bahkan mengirim perwakilan untuk belajar langsung ke Lembur Kuring terkait praktik baik pengelolaan pangan dan lingkungan berbasis komunitas.

Di tengah arus urbanisasi dan ketergantungan pada pasokan pangan dari luar, Lembur Kuring membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil: mencintai tanah, menanam, menjaga kebersihan, dan berbagi.