Berita  

Akulturasi Budaya Sunda dan Jawa Masih Kuat dalam Tradisi Masyarakat di Pangandaran

Akulturasi Budaya Sunda dan Jawa Masih Kuat dalam Tradisi Masyarakat di Pangandaran. Foto: Agus Giantoro/LJ

PANGANDARAN, LingkarJabar – Sejarah panjang pertemuan budaya masih terasa kental di Kabupaten Pangandaran. Meski secara administratif termasuk wilayah Jawa Barat yang identik dengan kultur Sunda, jejak kebudayaan Jawa tetap melekat kuat di tengah masyarakat setempat. Hal ini tercermin dari berbagai tradisi, bahasa, hingga ritual keagamaan yang diwariskan lintas generasi.

Kepala Desa Wonoharjo, Dede Suprapto, mengungkapkan bahwa keberagaman budaya di Pangandaran dipengaruhi masuknya masyarakat dari Tasikmalaya dan Kebumen sejak lama.

“Wajar jika di sini banyak orang Tasik, ada juga orang Jawa dari Kebumen maupun daerah sekitarnya,” ujarnya kepada lingkarjabar.com, Selasa 16 September 2025.

Menurut Dede, meskipun mayoritas masyarakat menggunakan bahasa Sunda, unsur Jawa tetap terasa kuat dalam berbagai adat istiadat. Tradisi seperti larung sesaji, ruwatan desa, hingga sejumlah ritual lainnya lebih dekat dengan kebudayaan Jawa.

“Banyak tradisi di sini yang asalnya bukan dari Sunda, melainkan dari Jawa. Misalnya larung sesaji hingga tradisi jampi-jampi yang masih dipraktikkan sebagian warga,” katanya.

Ia menambahkan, pengaruh Jawa tidak hanya pada tradisi adat, tetapi juga bersinggungan dengan perkembangan Islam pada masa lalu. Seperti halnya wayang dan kesenian rakyat, yang dijadikan media dakwah agar ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat.

“Wayang itu sebenarnya bukan budaya Islam, tapi dipakai sebagai sarana dakwah. Dengan begitu, masyarakat lebih mudah menerima ajaran agama,” jelas Dede.

Tradisi hajat laut atau upacara adat nelayan juga menjadi contoh akulturasi budaya. Jika sebelumnya dipimpin oleh sesepuh desa, kini banyak dilaksanakan oleh tokoh agama atau kiai. Namun maknanya tetap sama, yaitu wujud syukur dan doa agar hasil laut melimpah.

“Kalau dulu ada pemotongan kepala sapi, sekarang tidak selalu dilakukan. Semua tergantung keyakinan. Intinya doa tetap menjadi inti, bisa menggunakan bahasa Jawa, Sunda, atau bahasa sehari-hari,” tuturnya.

Meski sebagian tradisi sempat meredup, kini terdapat upaya untuk menghidupkannya kembali. Desa Wonoharjo, misalnya, rutin menggelar kegiatan tahunan seperti ruwatan desa, pagelaran wayang kulit, hingga pengajian akbar.

“Beberapa generasi sebelumnya sempat tidak melaksanakan ritual desa. Sekarang kita coba hidupkan lagi. Setiap tahun ada kegiatan, kadang wayang, kadang pengajian, disesuaikan dengan konteks zaman,” kata Dede.

Menurutnya, melestarikan tradisi bukan sekadar menjaga warisan leluhur, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan masyarakat. Budaya dan agama, lanjutnya, berjalan beriringan dan saling melengkapi dalam membentuk identitas Pangandaran yang kaya warna.

“Doa itu pada intinya sama, meski bahasa dan cara berbeda. Yang terpenting adalah niat tulus memohon kepada Tuhan,” pungkasnya. (Agus Giantoro)