LingkarJabar – Pagi itu, mentari di Gaza tak lagi hangat seperti biasanya. Di antara reruntuhan bangunan yang porak-poranda, seorang ibu muda memeluk erat bayinya yang baru lahir. Tubuh kecil itu terbalut kain lusuh, wajahnya pucat menahan dingin, sementara sang ibu menggigit bibir menahan tangis. Setiap dentuman bom yang terdengar dari kejauhan membuat tubuhnya bergetar ketakutan.
“Bertahanlah, Nak… Bertahanlah untuk Palestina,” bisiknya lirih.
Di sudut lain, anak-anak mengais sisa-sisa makanan dari puing toko yang hancur. Tak ada bekal bergizi, tak ada air bersih. Kelaparan menjadi senjata sunyi yang perlahan melemahkan generasi muda di sana. Seakan-akan dunia telah sepakat untuk menutup mata dan telinga.
Di layar televisi, berita-berita internasional terus mengalir. Para pemimpin dunia berbicara lantang soal perdamaian, tapi tangan mereka enggan terulur. Di ruang perundingan yang dingin dan penuh basa-basi, Palestina hanya menjadi pembahasan di balik meja. Bagi sebagian negara, derita di Gaza hanyalah angka, statistik tanpa ruh.
Namun, umat Islam percaya, suara jeritan dari Gaza tak akan sia-sia. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. telah memerintahkan kaum Muslim untuk membela mereka yang tertindas. Rasulullah Saw. pun mengingatkan bahwa umat Islam ibarat satu tubuh, jika satu bagian terluka, bagian lain ikut merasakan sakitnya.
Lantas, di mana Peran Kita?
Sebagian dari kita memang tak mampu mengangkat senjata atau terbang ke Palestina. Namun bukan berarti kita tak punya andil. Umat Islam di mana pun berada bisa membangun kesadaran, menyebarkan informasi yang benar, menggalang kepedulian, dan memperkuat persatuan menuju perubahan sejati.
Persatuan umat menjadi kunci. Sejarah mencatat, kekuatan besar lahir dari barisan yang terorganisir, dari suara yang satu dalam menuntut keadilan. Selama umat masih terpecah dan berjalan sendiri-sendiri, ketidakadilan akan tetap menemukan celah.
Palestina bukan sekadar isu politik. Ini adalah soal iman, nurani, dan tanggung jawab sebagai manusia. Rasulullah Saw. berpesan, “Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.” Maka, setiap aksi yang lahir dari kepedulian bisa menjadi bagian dari solusi besar.
Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)






