BOGOR. LingkarJabar – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap awal yang sangat penting dalam membentuk fondasi perkembangan akademik dan kognitif anak.
Dikutif dari sebuah artikel yang di susun oleh Ahmad Zaki Rahman alhilmi (fakultas Hukum Keluarga Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia 2024)
Dalam kajian nya mengungkapkan ke khawatiran terhadap peserta didik di jenjang PAUD apabila tidak memperoleh pembelajaran baca tulis dan berhitung secara memadai.apa bila terjadi ini akan ber dampak terhadap perkembangan pendidikan dasar, kognitif, dan psikososial anak,”Kami menyarankan Metode kajian literatur harus digunakan untuk menganalisis hasil penelitian terdahulu dan teori perkembangan anak.
Faktanya hasil kajian menunjukkan bahwa anak yang tidak memiliki fondasi calistung yang kuat berpotensi mengalami kesulitan akademik, keterlambatan kognitif, dan penurunan rasa percaya diri.
Oleh karena itu, pembelajaran calistung perlu disajikan dengan metode yang menyenangkan dan interaktif, serta didukung oleh peran aktif orang tua dan guru. Implikasi kebijakan pendidikan PAUD disarankan untuk mengintegrasikan pembelajaran calistung secara holistik guna mendukung perkembangan optimal anak.
“Kata kuncinya adalah pendidikan Anak Usia Dini, Baca Tulis Hitung, Perkembangan Anak, Pembelajaran Interaktif, Fondasi Akademik.Ucap Ahmad zaki
“Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi fondasi utama dalam membentuk kemampuan dasar yang akan menentukan keberhasilan anak di jenjang pendidikan selanjutnya. Pada tahap ini, anak-anak mulai belajar mengenal huruf, angka, dan konsep dasar yang membangun keterampilan baca, tulis, dan hitung (calistung). Namun, dalam praktiknya, masih banyak peserta didik PAUD yang belum mendapatkan pembelajaran calistung secara optimal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak, khususnya dalam aspek akademik, kognitif, dan psikososial.papar nya
Berikut ini solusi yang saya tawarkan mengkaji dampak dari kurangnya pembelajaran calistung pada anak PAUD agar pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut
“Kajian Literatur dan Teori”
Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, usia dini merupakan masa sensitif untuk pembelajaran konsep dasar yang menjadi prasyarat bagi pemahaman materi yang lebih kompleks di masa depan. Penelitian terdahulu menunjukkan
bahwa anak yang tidak memperoleh stimulasi baca, tulis, dan hitung sejak dini cenderung mengalami kesulitan dalam pendidikan dasar (Smith, 2018). Selain itu, teori Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dan dukungan lingkungan dalam perkembangan kemampuan kognitif anak, yang dapat dioptimalkan melalui metode pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif.
Dampak Kurangnya Pembelajaran Calistung pada Anak PAUD”
1,Kesulitan dalam Pendidikan
Dasar
2,Keterlambata
Perkembangan Kognitif
3,Penurunan Rasa Percaya Diri
Anak
Solusi dan Strategi Pembelajaran
Metode Pembelajaran Akademik
1,Bercerita:
2,Ceramah:
3,Tanya Jawab:
Metode Pembelajaran Kreatif
1,Belajar Sambil Bermain:
2,Menyanyi:
3,Bermain Peran:
Metode Pembelajaran Interaktif
1,Karyawisata:
2,Demonstrasi: Guru menunjukkan cara melakukan sesuatu, kemudian anak-anak mempraktikkannya untuk memperkuat pemahaman.
“lebih lanjut artikel ini menjelaskan,Prinsip Penting dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran PAUD
Menemukan keseimbangan antara pembelajaran dan kesenangan agar anak tetap termotivasi dan tidak merasa terbebani.
Mengembangkan disiplin dan tanggung jawab melalui kegiatan yang terstruktur namun tetap menyenangkan.
Menggunakan metode pembelajaran yang variatif untuk mengakomodasi berbagai gaya dan kebutuhan belajar anak.
Mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak agar pembelajaran lebih personal dan efektif.
Peran Aktif Orang Tua dalam Mendukung Pembelajaran Calistung di PAUD
Peran orang tua sangat krusial dalam mendukung keberhasilan pembelajaran baca, tulis, dan hitung (calistung) pada anak usia dini. Sebagai lingkungan belajar pertama dan utama,
Kesimpulan dan Rekomendasi
Kekhawatiran mengenai peserta didik di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tidak mendapatkan pembelajaran baca, tulis, dan hitung (calistung) secara memadai sangatlah beralasan. Kurangnya penguasaan calistung sejak dini berpotensi menghambat perkembangan akademik anak, yang pada akhirnya menyebabkan kesulitan dalam memahami materi pada jenjang pendidikan dasar.
Selain itu, minimnya stimulasi calistung juga dapat mengakibatkan keterlambatan dalam perkembangan kognitif, terutama dalam hal kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, yang merupakan komponen penting dalam proses belajar anak. Dampak tersebut tidak hanya terbatas pada aspek akademik, tetapi juga memengaruhi aspek psikososial, seperti menurunnya rasa percaya diri, motivasi belajar, serta kemampuan anak dalam berinteraksi sosial.
Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengintegrasikan pembelajaran calistung secara menyenangkan dan interaktif dalam kurikulum PAUD. Pendekatan pembelajaran yang memadukan metode akademik, kreatif, dan interaktif dapat membantu anak menguasai keterampilan dasar ini sesuai dengan tahap perkembangan dan kebutuhan mereka.
Peran aktif guru dalam merancang dan melaksanakan metode pembelajaran yang inovatif, disertai dukungan konsisten dari orang tua di rumah, menjadi faktor utama keberhasilan pembelajaran calistung. Sinergi antara guru dan orang tua akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
“Selain itu, kebijakan pendidikan PAUD perlu memberikan perhatian khusus pada penguatan pembelajaran calistung sebagai bagian penting dari pengembangan kemampuan dasar anak. Kurikulum yang dirancang secara holistik dan fleksibel harus mampu mengakomodasi kebutuhan belajar anak secara individual, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan pendidikan dasar dan kehidupan di masa depan dengan rasa percaya diri dan kesiapan yang maksimal.
Pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan juga perlu menyediakan pelatihan serta sumber daya yang memadai bagi tenaga pendidik PAUD agar mampu menerapkan strategi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.
Dengan demikian, kolaborasi yang erat antara guru, orang tua, dan pembuat kebijakan sangat diperlukan untuk memastikan setiap anak usia dini memperoleh fondasi akademik yang kuat sekaligus berkembang optimal dalam aspek kognitif, sosial, dan emosional. Hal ini menjadi investasi penting dalam membentuk generasi masa depan yang cerdas, kreatif, dan kompetitif.Pungkas Ahmad Zaki Rahman alhilmi
Sumber Artikel Ahmad Zaki Rahman Alhilmi ( fakultas Hukum Keluarga Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia 2024






