BANJAR, LingkarJabar – Seekor ular jenis king cobra sepanjang kurang lebih dua meter menggegerkan warga Lingkungan Pangadegan, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Senin (27/4/2026). Kejadian ini sempat memicu kepanikan warga karena ular tersebut dikenal sangat berbisa dan berbahaya.
Laporan pertama datang dari seorang warga, kakah (73), yang melihat langsung keberadaan ular di sekitar permukiman. Laporan tersebut segera ditindaklanjuti oleh UPTD Damkar Kota Banjar. Jawa Barat.
Petugas Damkar, Dicky Agustaf, menyampaikan setelah menerima laporan dari warga pihaknya langsung bergerak ke lokasi.
“Begitu menerima laporan, kami langsung mengirim petugas ke lokasi untuk menangani temuan ular jenis king cobra dengan panjang sekitar dua meter. Penanganan dilakukan dengan prosedur khusus demi keselamatan,” ujarnya.
Tim Damkar yang diterjunkan ke lokasi berhasil melakukan evakuasi dengan aman tanpa menimbulkan korban. Proses penanganan berlangsung hati-hati mengingat risiko tinggi dari hewan berbisa tersebut.
Sementara Ketua RT setempat, Oman, mengungkapkan bahwa kejadian ini sempat membuat warga panik, namun situasi dapat segera dikendalikan berkat respons cepat petugas.
“Kami langsung berkoordinasi dengan Damkar. Alhamdulillah penanganan cepat dan warga kini merasa lebih tenang,” katanya.
Petugas Damkar juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi kemunculan satwa liar di lingkungan permukiman.
“Kami mengimbau warga untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, terutama membersihkan semak-semak dan area yang berpotensi menjadi sarang ular. Jangan mencoba menangani sendiri jika menemukan hewan berbahaya, segera laporkan kepada petugas agar bisa ditangani dengan aman,” tegas Dicky.
Selain itu, warga juga diminta untuk memastikan saluran air, tumpukan barang, maupun area lembap di sekitar rumah tidak menjadi tempat persembunyian hewan liar.
Dengan keberhasilan evakuasi tersebut, situasi di lingkungan Pangadegan kini telah kembali aman dan kondusif. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.(Johan Wijaya)






