Berita  

Terungkap! Warga Pangandaran Bongkar Skema Penipuan Digital MBAstrack

Terungkap! Warga Pangandaran Bongkar Skema Penipuan Digital MBAstrack. Foto: Tangkapanlayar/LJ

PANGANDARAN, LingkarJabar – Salah satu korban dugaan investasi bodong MBAstrack di Kabupaten Pangandaran. , Dede Kusmawan (44), membeberkan bagaimana skema tersebut berjalan dan menyebabkan kerugian besar bagi para member.

Dede mengungkapkan aplikasi MBAstrack memikat masyarakat dengan janji mendapatkan penghasilan tambahan secara instan. Para pengguna hanya diminta menjalankan tugas sederhana melalui ponsel. Kemudahan inilah yang membuat banyak orang tergiur dan akhirnya bergabung.

“Awalnya kami diiming-imingi cara mendapatkan uang dengan mudah. Cukup pakai ponsel dan kuota internet. Katanya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Dede.

Menurutnya, narasi peningkatan ekonomi masyarakat menjadi daya tarik utama. Banyak orang merasa pekerjaan ini tidak membutuhkan keterampilan khusus, sehingga siapa pun bisa mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.

Dalam praktiknya, kata dia, aplikasi MBAstrack mengklaim bergerak di bidang periklanan hotel. Para member diberikan tugas untuk mengirim foto hotel dan mengunggahnya ke aplikasi. Setelah itu, mereka hanya perlu melakukan konfirmasi agar sistem mencatat tugas telah selesai.

Setelah tugas dikirim, pengguna dijanjikan upah yang langsung masuk ke saldo aplikasi. Skema ini membuat para member merasa sistem berjalan normal dan menghasilkan uang secara konsisten. Dalam tahap awal, penarikan dana bahkan sempat berhasil dilakukan.

“Member hanya mengirim foto hotel lalu konfirmasi. Setelah itu, saldo bertambah dan bisa ditarik. Karena itu, banyak yang percaya dan terus ikut,” terangnya.

Target Korban Beragam, dari Warga hingga Pejabat

Menariknya, sebut Dede, korban aplikasi MBAstrack tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat umum saja, sejumlah profesi lain juga ikut terjerat, mulai dari guru, aparat, hingga anggota legislatif daerah.

Hal ini menunjukkan bahwa modus penipuan digital semakin canggih dan mampu menembus berbagai lapisan masyarakat. Tidak sedikit korban yang awalnya hanya mencoba, namun kemudian tergiur untuk menambah deposit karena melihat saldo terus bertambah.

“Korban bukan hanya masyarakat biasa. Ada juga pejabat, anggota DPRD, polisi, dan guru yang ikut bergabung,” ungkapnya.

Dede sendiri mengaku bergabung dengan aplikasi MBAstrack sejak 8 Desember 2025. Selama lebih dari dua bulan, sistem berjalan seolah normal. Namun, ia mulai curiga ketika seluruh member diarahkan untuk melakukan deposit dengan nominal tertentu agar bisa mendapatkan keuntungan lebih besar.

Pada tahap awal, penarikan dana masih bisa dilakukan. Hal ini diduga menjadi strategi untuk membangun kepercayaan. Namun, seiring waktu, penarikan dana mulai tersendat hingga akhirnya tidak bisa dilakukan sama sekali.

“Awalnya penarikan bisa, tapi lama-lama tidak bisa. Semua member diminta deposit terus. Dari situ saya mulai curiga,” jelasnya.

Kecurigaan semakin kuat ketika penarikan dana yang dijanjikan pada Senin (9/2/2026) pukul 09.30 WIB tidak bisa diproses. Bahkan, aplikasi MBAstrack mendadak tidak dapat diakses.

Setelah gagal melakukan penarikan dana, para member panik. Banyak yang mencoba mengakses aplikasi, namun sistem tidak bisa dibuka. Saldo yang sebelumnya terlihat di akun masing-masing kini tidak bisa dicairkan.

Dede menyebut jumlah member di Kabupaten Pangandaran diperkirakan lebih dari 1.000 orang. Ia sendiri membawahi sekitar 84 member dengan total nilai deposit mencapai lebih dari Rp100 juta.

Nilai deposit setiap member bervariasi. Ada yang menyetor Rp4,5 juta hingga Rp13,5 juta. Di dalam aplikasi, saldo yang terlihat bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung jumlah deposit yang ditanamkan.

“Saldo penarikan terlihat beragam, dari ratusan ribu hingga puluhan juta. Tapi sekarang semuanya tidak bisa dicairkan,” ujarnya.

Kerugian total yang dialami warga Pangandaran diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Banyak korban berharap aparat penegak hukum segera mengusut kasus ini.

Ciri-Ciri Investasi Bodong Digital

Kasus MBAstrack kembali menjadi peringatan bagi masyarakat tentang maraknya investasi bodong berbasis aplikasi. Ada beberapa ciri umum yang sering muncul dalam skema semacam ini:

  1. Janji keuntungan cepat dan mudah
    Pengguna ditawari penghasilan tinggi tanpa risiko dan tanpa kerja berat.

  2. Tugas sederhana tanpa nilai ekonomi jelas
    Tugas seperti mengirim foto atau klik tautan sering digunakan untuk menarik minat.

  3. Penarikan awal lancar
    Sistem biasanya membayar di awal untuk membangun kepercayaan.

  4. Permintaan deposit berulang
    Member diminta menambah dana agar bisa naik level dan mendapat keuntungan lebih besar.

  5. Aplikasi tiba-tiba tidak bisa diakses
    Setelah dana terkumpul, platform menghilang dan saldo tidak bisa dicairkan.

Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa legalitas aplikasi investasi. Pastikan perusahaan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan memiliki izin resmi.

Harapan Korban dan Langkah Hukum

Para korban berharap kasus ini segera ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. Mereka juga berharap ada upaya pemulihan kerugian yang dialami.

Dede mengaku telah berkomunikasi dengan sesama korban untuk mengumpulkan data dan bukti transaksi. Langkah ini dilakukan sebagai persiapan pelaporan resmi kepada pihak berwenang.

“Kami berharap kasus ini diusut. Kerugian masyarakat sangat besar. Banyak yang menabung lama, bahkan ada yang meminjam uang,” ujarnya.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa masyarakat harus lebih waspada terhadap tawaran investasi digital yang menjanjikan keuntungan instan. Literasi keuangan dan kehati-hatian menjadi kunci agar tidak terjebak dalam skema penipuan serupa.

Pentingnya Edukasi Keuangan Digital

Maraknya investasi bodong berbasis aplikasi menunjukkan bahwa edukasi keuangan digital masih perlu ditingkatkan. Pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat harus bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran akan risiko investasi ilegal.

Masyarakat sebaiknya tidak mudah percaya pada aplikasi yang menawarkan keuntungan besar tanpa dasar bisnis jelas. Selalu lakukan riset, cek legalitas, dan konsultasikan dengan pihak berwenang sebelum menanamkan dana.

Kasus MBAstrack di Pangandaran menjadi pelajaran berharga. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang dan masyarakat semakin cerdas dalam menghadapi tawaran investasi digital di era teknologi. (Agus Giantoro)