Bogor, Lingkar Jabar – Kelompok Tani Jaya Desa Pasir Jaya, kecamatan Cigombong, kabupaten Bogor yang bergerak dalam pertanian Talas Beneng kembali mendapat kunjungan dari luar wilayah.kali ini mereka mendapat kunjungan dari Kementerian Pertanian,Dinas Pertanian dan para petani Talas Beneng kabupaten Cilacap
Kedatangan rombongan dari Kementerian, Dinas Pertanian Cilacap dan para petani Talas Beneng ke Kelompok Tani Jaya Desa Pasir Jaya Kecamatan Cigombong, kabupaten Bogor ini merupakan bagian dari studi banding mereka dalam berbagi ilmu mengenai Talas Beneng seperti bagaimana cara memilih bibit yang baik, penanaman yang baik, menghilangkan penyakit serta penggunaan pupuk organik dan juga bagaimana pemasarannya. ungkap Suhartono ketua Kelompok Tani Jaya kepada media Lingkar Jabar.
Talas beneng yang diperkenalkan tahun 2024 lalu oleh anggota DPR RI Adian Napitupulu kepada kelompok Tani Jaya sebenarnya sudah pernah beliau geluti tahun 2019.namun, dikarenakan saat itu pemasaran hasil panennya sulit akhirnya gulung tikar. dan tahun 2024 Talas Beneng kembali diperkenalkan.
Ia juga menjelaskan kalau pada tahun 2025 lalu pernah juga kedatangan petani dari jepang untuk mengetahui bagaimana Talas Beneng ini di tanam.
Masih dikatakannya, bahwa Talas Beneng sendiri merupakan tanaman yang mampu tumbuh di berbagai kondisi tanah, dan tidak membutuhkan perawatan pertanian yang kompleks. Talas ini dikenal dengan sebutan “beneng”, yang berasal dari singkatan besar dan koneng (kuning). Hal ini merujuk pada umbi talas yang berwarna kuning serta memiliki daun yang lebar dengan batang yang dapat tumbuh hingga hampir dua meter. Dan Proses budidaya Talas Beneng ini relatif sederhana. Mulai dari membersihkan lahan, menanam bibit lalu melakukan pemupukan secara bertahap.
Talas Beneng dipanen sekitar tiga bulan masa tanam, dengan menggunakan pupuk organik dari bahan-bahan alami seperti kotoran hewan.
Bagi Kelompok Tani Jaya, Talas Beneng tidak hanya berfungsi sebagai komoditas pertanian. Menurut Suhartono, Talas Beneng juga bisa menjadi pengganti nasi untuk upaya diversifikasi pangan. Umbinya bisa dikukus dan dikonsumsi langsung sebagai sumber karbohidrat alternatif.juga bisa dibuat tepung.
Lanjut Suhartono, Talas Beneng sendiri bisa berkembang menjadi sebuah inovasi ekonomi. diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah,selain sebagai campuran tembakau untuk produk rokok.
Untuk pemasaran Talas Beneng sendiri sekarang ini alhamdulilah sudah ada yang menampung walaupun harga perkilonya masih murah yaitu perkilo di harga 1000 ribu rupiah
Saat ini dari 14 ribu bibit yang dia dan kelompok tani jaya tanam, setiap 3 bulan sekali baru bisa dipanen menghasilkan 1 ton.
Suhartono berharap, kedepannya ada bimbingan dari Dinas pertanian kabupaten Bogor agar hasil produksinya bisa lebih meningkat sehingga otomatis penghasilan para petani Talas Beneng pun bisa bertambah.
Suhartono menilai, Keberlanjutan Talas Beneng ini tidak hanya bisa dilihat sebagai strategi ekonomi jangka pendek saja, tetapi juga sebagai tanaman yang sangat menjanjikan kedepannya.pungkasnya (IY)






