Berita  

Program MBG di Cigombong Berlanjut Selama Ramadan dengan Konsep Takjil

BOGOR, LingkarJabar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai diterapkan di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Selama bulan Ramadan, program ini tetap berjalan dengan menyesuaikan jadwal libur sekolah sesuai dengan Surat Edaran Bersama (SEB) 3 Menteri Nomor 2 Tahun 2025.

Dalam pendistribusian MBG selama Ramadan, konsep program ini dikemas layaknya pemberian takjil bagi para siswa penerima manfaat.

“Karena mayoritas penerima manfaat sedang berpuasa, sistem distribusinya akan disesuaikan dengan kebijakan sekolah,” ujar Sani, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), saat ditemui di SDN Ciburayut 01, Kamis 06 Maret 2025.

Sani menjelaskan bahwa distribusi tetap menggunakan sistem tiga kelompok usia untuk memastikan kecukupan gizi tanpa kelebihan distribusi. Kelompok 1 terdiri dari siswa kelas 1–3 SD/MI, kelompok 2 kelas 4–6 SD/MI, dan kelompok 3 kelas 1 SMP/MTs hingga kelas 3 SMA/MA.

Setiap siswa menerima satu totebag berisi susu, buah jeruk, dan biskuit. Sebelum distribusi, siswa diberikan totebag, yang kemudian digunakan untuk menukar makanan saat pembagian berlangsung.

“Sistemnya hanya pertukaran wadah. Ini sudah sesuai dengan arahan dari BGN,” tambahnya. Hari ini, sekitar 3.301 siswa SD di Kecamatan Cigombong menerima manfaat program ini.

Kepala Desa Ciburayut, Dulloh, yang turut hadir dalam pembagian MBG di SDN Ciburayut 01, menyampaikan rasa syukur atas program ini.

“Alhamdulillah, program makan bergizi gratis untuk anak-anak sekolah sudah dirasakan di Desa Ciburayut. Hari ini, empat sekolah dasar mendapat bantuan dari Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, yaitu SDN Ciburayut 01, SDN Ciburayut 02, SDN Selaawi 01, dan SDN Selaawi 02,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa program ini sangat membantu masyarakat, terutama di bulan Ramadan dan menjelang Lebaran, karena meringankan beban orang tua dalam menyiapkan makanan berbuka bagi anak-anak mereka.

Sementara itu, Kepala SDN Ciburayut 01, Solihat, menyambut baik keberlanjutan program MBG selama Ramadan yang dikemas dalam bentuk takjil.

“Kami sangat mendukung program ini karena dapat meningkatkan kesehatan siswa,” katanya.

Solihat menekankan pentingnya memperhatikan kandungan gizi makanan yang diberikan kepada siswa.

“Bukan soal makanan ringan atau berat, tapi yang utama adalah kecukupan gizi,” jelasnya.

Pihak sekolah meyakini bahwa program ini memberikan dampak positif bagi perkembangan anak-anak, terutama karena kondisi ekonomi masyarakat yang berbeda-beda dalam mencukupi kebutuhan gizi mereka. (IY)