BOGOR, LingkarJabar – Dalam rangka memperingati sekaligus memeriahkan Hari Santri Nasional 2025, Yayasan Al Furqoniyah Citugu kembali menggelar ajang tahunan Al Furqon Festival (A’Fest) ke-8. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari, mulai 22 hingga 26 Oktober 2025, bertempat di Kompleks Yayasan Pondok Pesantren Al Furqoniyah, Kampung Citugu, Desa Tugu Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor.
Ketua Yayasan Al Furqoniyah, KH Ading Ahmad Nazir, menjelaskan bahwa penyelenggaraan A’Fest ke-8 merupakan bagian dari upaya menumbuhkan semangat para santri untuk terus berkarya dan berkompetisi secara positif.
“Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, kami menggelar berbagai kegiatan, mulai dari pawai yang dimulai di Kantor Desa Tugu Jaya hingga rangkaian lomba dalam A’Fest ke-8,” ujarnya.
Festival ini diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK/PAUD, SD/MI, hingga SMP/MTs, dengan tujuan menggali potensi, kreativitas, serta memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah arus modernisasi.
Beragam lomba digelar untuk setiap tingkatan. Untuk TK/PAUD, ada lomba mewarnai, menyusun fabel, doa harian, hafalan surat pendek, dan fashion show. Sementara untuk SD/MI, peserta akan mengikuti lomba futsal, menggambar, Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHK) 1 juz, dan adzan. Adapun jenjang SMP/MTs diisi dengan lomba futsal, MHK 2 juz, dai muda, solo vokal, foster, dan mendongeng.
“Alhamdulillah, setiap tahunnya antusiasme peserta sangat tinggi. Tahun ini tercatat ratusan peserta telah mendaftar untuk berpartisipasi dalam A’Fest ke-8. Mereka berasal dari berbagai lembaga pendidikan di Kabupaten Bogor, bahkan ada juga dari luar daerah seperti Sukabumi dan Cianjur,” ungkap KH Ading.
Pelaksanaan seluruh lomba dijadwalkan berlangsung mulai 22 hingga 26 Oktober 2025, dan para pemenang akan mendapatkan trofi serta uang pembinaan dari panitia.
Lebih lanjut, KH Ading Ahmad Nazir menegaskan bahwa momentum Hari Santri Nasional menjadi pengingat atas peran besar santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan serta pembangunan bangsa. “Santri tidak hanya berjuang di medan dakwah, tetapi juga menjaga moral dan etika bernegara,” tuturnya.
Ia berharap peringatan ini dapat melahirkan generasi santri yang cerdas, berakhlak, dan berjiwa dakwah.
“Kami ingin santri tidak hanya pandai membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Santri harus mampu menjadi teladan, menyampaikan pesan Islam yang damai dan menyejukkan,” pungkasnya. (Riswan Nurdin)






