PANGANDARAN, LingkarJabar – Program Studi S1 Keperawatan PSDKU Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran berbasis praktik nyata.
Melalui kegiatan simulasi bencana tanah longsor bertajuk “SLIDEOUT” (Landslide and Get Out), mahasiswa diajak langsung mengasah kemampuan penanganan kebencanaan di depan Kampus Unpad Pangandaran, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat yang berlangsung pada Rabu 01 Oktober 2025 kemarin.
Kegiatan ini merupakan bagian dari metode Project Based Learning pada Mata Kuliah Keperawatan Bencana yang dibimbing oleh Departemen Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis Fakultas Keperawatan Unpad. Simulasi digelar dengan menghadirkan skenario bencana yang dibuat sedekat mungkin dengan kondisi nyata, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga menguji keterampilan praktis mereka.
Sebanyak 43 mahasiswa angkatan 2022 menjadi pelaksana utama, didukung 39 mahasiswa dari angkatan 2023 hingga 2025 yang berperan sebagai talent atau korban. Skenario mencakup proses evakuasi warga, triase korban, hingga tindakan medis darurat di lapangan.
Selain keterampilan teknis, kegiatan ini juga menekankan pada aspek non-teknis seperti komunikasi, koordinasi tim, serta kepemimpinan dalam kondisi krisis. Hal ini dinilai penting sebagai bekal tenaga kesehatan di lapangan saat menghadapi bencana.
Kegiatan “SLIDEOUT” mendapat dukungan dari civitas akademika, tenaga kependidikan, serta mitra eksternal. Hadir jajaran dosen Fakultas Keperawatan Unpad, Ketua Program Studi S1 Keperawatan Kampus Pangandaran, aparat keamanan, hingga pemerintah daerah. Dari unsur pemerintah, hadir Kabid Darlog BPBD Kabupaten Pangandaran, Yatno, serta Kasat Samapta Polres Pangandaran, Jatnika, beserta anggota.
Prof. Cecep Eli Kosasih selaku Koordinator Mata Kuliah Keperawatan Bencana, menegaskan pentingnya pengalaman lapangan bagi mahasiswa.
“Situasi bencana menuntut kecepatan, ketepatan, dan koordinasi. Semua itu hanya bisa dilatih melalui pengalaman nyata,” ujarnya.
Mahasiswa yang terlibat mengaku memperoleh pengalaman berharga. Dewi Nurhaliza, angkatan 2022, menyebut simulasi ini membangun kepercayaan diri.
“Awalnya tegang karena harus cepat mengambil keputusan saat triase korban, tapi pengalaman ini sangat melatih komunikasi dan kerjasama tim,” katanya.
Sementara itu, Rizki Ramadhan, angkatan 2023 yang berperan sebagai talent korban, menilai kegiatan ini membuka wawasan baru.
“Saya bisa merasakan kepanikan layaknya saat bencana. Dari situ saya sadar bahwa tenaga kesehatan harus mampu menenangkan pasien, tidak hanya memberi tindakan medis,” ungkapnya.
Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kabupaten Pangandaran Yatno menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya membangun budaya sadar bencana.
“Unpad konsisten mendukung edukasi kebencanaan yang memperkuat ketangguhan masyarakat. Kolaborasi kampus, pemerintah, dan aparat akan memperkuat kesiapsiagaan kita,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Keperawatan Unpad menegaskan perannya bukan hanya mencetak tenaga kesehatan tangguh, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kesadaran masyarakat akan risiko bencana, khususnya di daerah rawan longsor. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 3 (Good Health and Well-being) dan 11 (Sustainable Cities and Communities).
Dengan adanya simulasi “SLIDEOUT”, diharapkan mahasiswa dapat menjadi tenaga kesehatan yang sigap, tangguh, dan peka terhadap kondisi darurat, sekaligus memperlihatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana.






